
Partai Gerakan Rakyat menggelar diskusi bertajuk "Bridging Two Hopes: Inter-Party Discussion for Stronger Political Institutions" bersama perwakilan dari Partai Ikatan Demokratik Malaysia (MUDA) di Kantor Sekretariat DPP Gerakan Rakyat, Ampera, Jakarta Selatan (Jaksel) pada Kamis (6/8/2026).
Pertemuan lintas lembaga politik dari dua negara ini diselenggarakan guna bertukar pandangan terkait proses pembentukan partai, strategi penggalangan dukungan pemuda, hingga tantangan elektoral menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 di Indonesia.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi Partai MUDA Malaysia yang diwakili oleh Wakil Bendahara Umum, Rashifa Aljunied . Ia menekankan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar organisasi politik muda lintas negara.
"Dan ini adalah kali pertama kami menyambut dari partai dari luar negeri, artinya ini benar-benar menjadi, sebagaimana harapan, bridging two hopes antara Partai MUDA dan juga Partai Gerakan Rakyat. Partai Gerakan Rakyat adalah, sebenarnya belum bisa dibilang partai, karena baru berproses menjadi partai," ujar Sahrin.
Sahrin mengakui bahwa mendirikan sebuah partai politik di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, karena persyaratan administratif mewajibkan kepengurusan hingga tingkat daerah dan kecamatan. Meski begitu, Ia menargetkan legalitas badan hukum dapat tuntas dalam waktu dekat.
"Karena kita tahu di Indonesia sangat susah untuk membangun sebuah partai politik. You have to 75 persen kabupaten/kota, 100 persen provinsi, 50 persen kecamatan, sangat banyak. Jadi kita sudah berproses sekitar 6 bulan. Dan Alhamdulillah, hari ini kita juga sudah mulai berproses untuk menginput data. In Syaa Allah partai ini akan resmi sebagai partai politik berbadan hukum, mudah-mudahan pada bulan September tahun 2026," jelasnya.
Lebih lanjut, Sahrin mengungkapkan Gerakan Rakyat lahir dari akar rumput dan kesadaran anak muda di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik.
"Nah, oleh karena itu bahwa ketika dipaksa kita harus memilih partai yang ada, nah ini tentunya sangat bertentangan dengan apa yang menjadi realitas. Maka dari itu tidak ada pilihan lain bahwa kita harus membangun sebuah institusi politik sendiri, sebuah badan politik yang lahir dari rakyat, sebuah partai politik yang lahir dari rakyat," pungkas Sahrin.
"Kita punya tokoh inspiratif, Anies Rasyid Baswedan, In Syaa Allah kandidat dari Partai Gerakan Rakyat, kandidat calon presiden kita, dan selalu menginspirasi kita, dan juga sama dalam agenda perjuangan kita. Apa itu? Yaitu yang selama ini hilang dari masyarakat kita, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," lanjutnya.
Menatap Pemilu 2029 mendatang, Sahrin menyoroti besarnya proporsi pemilih muda dari kalangan milenial dan Gen Z yang diperkirakan mencapai 60 hingga 73 persen dari total pemilih.
"Kurang lebih di tahun 2029 nanti, pemilih muda yang kita sebut dengan milenial dan juga Gen Z, ini kalau digabung 60 sampai dengan 73 persen suara. Nah ini saya kira akan menjadi kekuatan yang sangat signifikan mempengaruhi politik Indonesia," tutur Sahrin.
Sementara itu, Wakil Bendahara Agung Partai MUDA Malaysia, Rashifa Aljunied membagikan pandangan serta pengalamannya dalam membangun gerakan politik berbasis pemuda di Malaysia.
"Bagi MUDA, enam tahun lalu saat partai didaftarkan, kami menghadapi kesulitan dalam membangun maupun mendaftarkannya secara resmi. Saya berasumsi hal yang sama juga dialami oleh Gerakan Rakyat. Namun, di Malaysia, prosesnya tentu tidak serumit di Indonesia. Indonesia adalah negara yang besar, jadi saya berasumsi bahwa membangun partai politik di sini, pastilah jauh lebih sulit dibandingkan di Malaysia," ucap Rashifa.
Rashifa menilai keterbukaan ruang bagi anak muda di dalam Gerakan Rakyat memiliki peluang besar untuk membawa perubahan sosial dan politik bagi masyarakat Indonesia. "Jadi MUDA mewujudkannya, dan menurut saya Gerakan Rakyat memiliki potensi besar untuk mewujudkan hal serupa bagi masyarakat Indonesia, termasuk kalangan anak mudanya," tuturnya.
Dalam paparannya, Rashifa juga menemukan kesamaan nilai dasar antara Partai MUDA Malaysia dan Gerakan Rakyat, terutama dalam semangat kerelawanan serta transparansi berbasis suara rakyat.
"Jadi, saya membaca situs website Gerakan Rakyat yang menurut saya sangat keren, dan saya suka warnanya. Saya tidak punya pakaian berwarna oranye, jadi saya mengenakan pakaian berwarna merah. Namun, ada dua hal yang menurut saya serupa antara partai kita. Pertama, semangat kerelawanan, di Malaysia kami menyebutnya sukarelawan, dan juga pentingnya memperjuangkan suara rakyat," terang Rashifa.
"Dan saya ingin sekali mendengar tentang aspirasi Gerakan Rakyat bagi kalangan orang muda, serta bagaimana kita bisa bekerja sama untuk membuat politik progresif lebih menarik di Indonesia dan Malaysia," tutupnya.
Info Detak.co | Sabtu, 08 Agustus 2026 
