
Dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober, Gerakan Rakyat menggelar diskusi Forum Ampera bertajuk "Ruang Aman, Jiwa Pulih: Pahami Kerentanan, Pastikan Pemulihan" di Kantor Sekretariat DPP, Ampera, Jakarta Selatan, Jumat (9/10/2026) kemarin.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber yang memaparkan tantangan kesehatan jiwa dari sudut pandang bahaya narkotika, kasus perundungan atau bullying, dan pemulihan spiritual.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid menyampaikan pentingnya perhatian terhadap isu kesehatan mental di samping agenda politik organisasi. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Gerakan Rakyat senantiasa hadir dan konsisten mengangkat isu-isu nasional maupun internasional.
"Kami tentunya bersyukur bisa menyelenggarakan kegiatan ini di Hari Kesehatan Mental Sedunia. Jadi memang Gerakan Rakyat selalu eksis dalam memperingati sekaligus mendiskusikan isu-isu penting. Jadi memang kita sebagai partai politik yang tengah berfokus pada kegiatan politik, namun kita memberikan perhatian terhadap isu-isu yang selama ini menjadi isu nasional maupun internasional," ujar Sahrin.
"Sebagaimana kita tahu bahwa Gerakan Rakyat memiliki visi adil dan makmur bagi Indonesia. Gerakan Rakyat memiliki cita-cita besar dengan haluan yang sudah jelas menjadi pilihan kita bahwa kita menjadikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah haluan kita, arah kita. Oleh karena itu, hari ini kita masuk pada tema kesehatan mental. Apa itu kesehatan mental? Tentunya ini berkaitan dengan perasaan, jiwa, pikiran. Ini yang memang sangat penting selama ini," lanjutnya menjelaskan.
Memasuki sesi diskusi, Sekretaris Jenderal Gaharu Nusantara Bersinar (GNB), Hendra Simanjuntak menyoroti kondisi darurat narkoba di Indonesia serta dampaknya merusak jiwa dan masa depan generasi muda.
"Kenapa saya bilang sangat penting? Karena persoalan narkoba khususnya di negara kita di Indonesia ini seperti fenomena gunung es. Di atasnya kelihatannya permukaannya landai, tapi di bawahnya sudah sangat mengkhawatirkan. Kematian akibat narkoba di Indonesia 50 orang per hari. Kalau diakumulasikan dalam setahun itu 18.000 mati sia-sia karena narkoba. Ini generasi kita, kita bisa lost the generation sampai 18.000 dalam setahun, sangat mengkhawatirkan," ucap Hendra.
Hendra juga merinci tiga dampak utama zat narkotika terhadap sistem saraf dan jiwa penggunanya, seperti menghambat kerja otak (depresan), menyebabkan halusinasi dan paranoid (halusinogen), serta memaju kerja otak secara berlebihan tanpa istirahat (stimulan).
"Pencegahan dimulai dari rumah. Orang tua, anak, itu harus ada komunikasi yang baik. Jadikan orang tua tuh sebagai sahabat, jangan kita kasih batasan sama anak," tuturnya.
Sementara itu, Pemerhati Pendidikan dan Konselor, Ferry Onibala memaparkan perilaku bullying pada anak umumnya bersumber dari masalah internal rumah tangga dan pola pengasuhan.
"Dari bullying ini, ternyata mereka sudah banyak jadi korban di rumah. Yang dilakukan oleh, saya katakan oknum orang tua. Atau kakak terhadap adik, atau paman, bibi terhadap keponakan. Kenapa? Karena kurang peduli orang tua. Bahwa anak-anak yang dikasihi, dia kaya akan kasih, dia memberi kasih itu kepada orang lain. Tapi anak-anak yang enggak pernah dicintai, dia enggak bisa memberikan cinta itu kepada orang lain," pungkas Ferry.
Ferry juga mengingatkan orang tua agar tidak sepenuhnya membebankan pendidikan mental dan karakter anak kepada lembaga sekolah.
"Jangan pernah menuntut sekolah untuk mendidik anak kita secara spiritual ataupun edukasi sempurna. Enggak akan bisa, enggak akan bisa. Kalau Bapak, Ibu, Saudara enggak peduli, itu hampir di atas 50 persen jiwanya pasti terganggu," tambahnya.
Terakhir, Penasehat Gerakan Kristen Indonesia Sejahtera (GEKRIS) sekaligus CEO PT Luhur Mulia Jaya, Yunita Wowor menekankan pentingnya aspek spiritualitas serta sikap merangkul keluarga dalam menghadapi masalah mental.
"Untuk mental atau bullying, kita di sini semua pasti pernah mengalami itu. Mengalami rasa sakit, rasa luka, rasa sedih, rasa diasingkan, rasa ditinggalkan. Di saat kita terluka, kita ngapain? Kita mendekatkan diri ke Tuhan secara spiritual. Karena spiritual itu buat saya universal. Apa pun agamanya, kalau kita dekatkan diri ke Tuhan atau ke Allah, itu pasti semuanya selesai," ungkap Yunita.
Yunita pun menutup paparannya dengan pesan moral terkait penanganan korban bullying maupun penyalahgunaan narkoba dalam lingkungan keluarga.
"Kalau ada anak kita yang pakai narkoba, atau mungkin dia salah jalan atau apa, jangan kita buang. Kita peluk dia, kita rangkul dia, biar dia bisa balik lagi ke diri dia sendiri. Terus, kalau ada anak kita yang di-bully sampai tidak mau sekolah, jangan pernah sekali-kali kita bilang, 'Lebay banget sih lu!'. Memulihkan satu orang berarti menyelamatkan satu keluarga dan satu generasi," tutupnya.
Rangkaian acara diskusi diakhiri dengan penyerahan sertifikat penghargaan dari Gerakan Rakyat kepada moderator, dr. Herlina dan ketiga narasumber. Penyerahan sendiri dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum Sahrin Hamid, Sekretaris Jenderal Muhammad Ridwan, Bendahara Umum Prita Subono, dan Wakil Ketua Umum Tri Bagus Subekti.
Info Detak.co | Minggu, 11 Oktober 2026 
