Hilang 40% Mangrove dalam 3 Dekade, KKP Gandeng Pemangku Kebijakan Genjot Rehabilitasi Ekologis
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono.

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, membeberkan fakta memprihatinkan terkait penyusutan luas hutan bakau di tanah air. Indonesia tercatat kehilangan sekitar 40 persen ekosistem mangrove dalam tiga dekade terakhir, dengan laju kerusakan mencapai 52 ribu hektare per tahun dan sekitar 19,2 persen sisanya kini berada dalam kondisi kritis.

Pernyataan tersebut disampaikan Trenggono saat menghadiri peringatan Hari Mangrove Sedunia yang dipusatkan di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

"Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan sekitar 40% mangrove dengan laju kerusakan sekitar 52 ribu hektare per tahun dan sekitar 19,2% mangrove berada dalam kondisi kritis," ungkap Trenggono.

Penyebab Kerusakan dan Peran Strategis Mangrove

Trenggono menjelaskan bahwa luas cakupan hutan mangrove Indonesia mengalami penurunan signifikan sejak tahun 1980-an, yakni dari 4,2 juta hektare menjadi 3,3 juta hektare. Faktor utama yang memicu kemunduran ini adalah kombinasi antara degradasi lingkungan dan tingkat abrasi pantai yang tinggi akibat terjangan gelombang laut di berbagai wilayah pesisir.

Padahal, Indonesia memegang sekitar 23 persen dari total ekosistem mangrove dunia yang memiliki peran sangat vital, antara lain:

  • Sebagai benteng pertahanan alami kawasan pesisir dari abrasi.

  • Penyimpan (sink) karbon alami untuk mitigasi perubahan iklim.

  • Habitat pembiakan biota laut yang menopang produktivitas perikanan nasional dan ketahanan pangan masyarakat.

Rehabilitasi Berbasis Kesesuaian Ekologis dan Kolaborasi

Menanggapi krisis tersebut, KKP menegaskan bahwa agenda pemulihan tidak boleh sekadar berfokus pada seremoni penanaman bibit, melainkan harus menerapkan pendekatan restorasi berbasis kesesuaian ekologis agar fungsi ekosistemnya dapat pulih secara optimal.

Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, KKP bersama para pemangku kepentingan menanam 15.000 bibit pohon bakau kurap (Rhizophora mucronata) di Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Tahura Ngurah Rai, Denpasar.

Trenggono menekankan bahwa keberlanjutan ekosistem mangrove sangat bergantung pada sinergi lintas sektor yang memadukan kebijakan terpadu, riset sains, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, penguatan skema pendanaan, pengawasan ketat, hingga edukasi publik secara masif.