Jejak Alumni UNAIR dari Riset Global, Data, Teknologi hingga Pengabdian

Ada satu cara sederhana untuk mengukur keberhasilan sebuah perguruan tinggi: melihat apa yang dilakukan para alumninya setelah meninggalkan kampus.

Sebab, pendidikan tinggi pada akhirnya tidak berhenti pada ijazah, gelar, jabatan, atau prestasi akademik. Nilai sebuah almamater justru menemukan bentuk paling nyata ketika pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah berubah menjadi gagasan, inovasi, pelayanan, kebijakan, gerakan sosial, bahkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Rangkaian pemberitaan mengenai alumni Universitas Airlangga dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan fenomena tersebut dengan cukup jelas.

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang bergerak di dunia riset internasional. Ada yang menjadikan statistika sebagai instrumen pembangunan. Ada yang berkiprah di industri perbankan dan pembiayaan UMKM. Ada yang membawa teknologi ke wilayah pendidikan inklusif. Ada yang mengembangkan gerakan pelestarian lingkungan pesisir. Dan ada pula jejaring alumni yang mulai didorong untuk menjadi mitra strategis pemerintah daerah ketika ruang fiskal semakin terbatas.

Jika seluruh kisah tersebut dibaca sebagai satu rangkaian, terlihat sebuah benang merah yang kuat: ilmu yang diperoleh di kampus tidak berhenti menjadi modal individual. Ia bergerak menjadi modal sosial.

Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari sebuah almamater.

Dari Surabaya Menembus Jejaring Riset Dunia

Kisah tersebut salah satunya terlihat dari perjalanan Afifah Nurrosyidah, Ph.D., alumni S1 Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR.

Perjalanan akademiknya menunjukkan bagaimana sebuah pendidikan di tingkat sarjana dapat berkembang menjadi jejaring pengetahuan lintas negara.

Ketertarikannya pada dunia riset berkembang ketika melanjutkan pendidikan magister di ITS Surabaya. Ia kemudian memperoleh kesempatan mengerjakan proyek penelitian di Kumamoto University, Jepang.

Pengalaman tersebut memperluas cakrawala akademiknya. Teknologi tidak lagi dipandang hanya sebagai perangkat, tetapi sebagai bagian dari hubungan antara manusia, sistem, perilaku, dan perubahan sosial.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke National Cheng Kung University, Taiwan, untuk menempuh pendidikan doktoral di bidang Information Management.

Di sana, fokus penelitiannya semakin mengarah pada bagaimana manusia menerima, mengadopsi, dan menggunakan teknologi.

Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan Afifah menjadi lebih bermakna.

Pengalaman akademik internasional tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian personal. Ia kemudian membangun Titik Jeda Global, sebuah ruang yang diarahkan untuk membuka akses pendampingan pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa maupun akademisi.

Dengan cara itu, pengalaman yang diperoleh di luar negeri tidak berhenti sebagai cerita tentang seseorang yang berhasil menembus dunia akademik global.

Ia mencoba mengubah pengalaman itu menjadi jembatan agar orang lain juga memiliki kesempatan yang sama.

Inilah salah satu wajah baru alumni perguruan tinggi: bukan hanya menjadi orang yang berhasil, tetapi menjadi orang yang membuka jalan bagi keberhasilan orang lain.

Ketika Angka Berbicara kepada Kebijakan

Dari dunia riset, cerita alumni UNAIR bergerak ke wilayah pembangunan berbasis data.

Lussi Agustin, alumni S1 Statistika FST UNAIR, kini dipercaya sebagai Direktur PT Cemerlang Statistika Indonesia atau StatsMe.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana statistika tidak harus berhenti pada angka, rumus, tabel, dan grafik.

Di tangannya, data menjadi alat untuk memahami persoalan sosial dan ekonomi.

Ia terlibat dalam penyusunan berbagai analisis statistik, termasuk Indeks Good Governance. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa statistik dapat menjadi instrumen penting untuk membantu pemerintah dan organisasi memahami persoalan secara lebih objektif.

Dalam dunia yang semakin kompleks, pembangunan tidak cukup hanya didasarkan pada asumsi.

Kebijakan membutuhkan bukti.

Pemerintah perlu mengetahui siapa yang terdampak, seberapa besar persoalannya, wilayah mana yang membutuhkan intervensi, serta kebijakan apa yang memberikan dampak paling besar.

Karena itu, statistisi masa kini tidak cukup hanya mampu menghitung.

Ia harus mampu menerjemahkan angka menjadi cerita.

Dan lebih jauh lagi, menerjemahkan cerita tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan.

Di titik inilah ilmu statistika memperoleh makna sosialnya.

Angka tidak lagi sekadar angka.

Ia menjadi bahasa pembangunan.

Dari Statistika ke Ruang Pembiayaan UMKM

Masih dari rumpun statistika, perjalanan Muhindro Asriono memperlihatkan bagaimana kompetensi akademik dapat menemukan bentuk lain di industri perbankan.

Alumni S1 Statistika FST UNAIR tersebut membangun karier lebih dari delapan tahun di industri perbankan.

Sejak bergabung dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pada 2017, ia menjalani berbagai fungsi, mulai dari Consumer Loan Service Staff, SME Sales, Credit Program Sales, hingga SME Sales Officer.

Kini ia dipercaya sebagai SME Center Risk Analyst di Sentra Processing UMKM Bekasi.

Di balik jabatan tersebut terdapat satu pekerjaan penting: membaca risiko dan peluang pembiayaan melalui data.

Di dunia UMKM, keputusan kredit bukan perkara sederhana.

Ada karakter usaha, kapasitas pembayaran, arus kas, prospek bisnis, risiko, serta berbagai indikator yang harus dipertimbangkan.

Di sinilah kompetensi statistika menemukan ruang aplikasinya.

Kemampuan membaca data bertemu dengan pengalaman bisnis dan pemahaman terhadap risiko.

Perjalanan Muhindro sekaligus memperlihatkan bahwa ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah tidak harus digunakan dalam ruang profesi yang identik dengan nama jurusannya.

Statistika dapat masuk ke perbankan.

Statistika dapat masuk ke pembiayaan.

Statistika dapat menjadi bagian dari pengambilan keputusan bisnis.

Dan pada akhirnya, statistika dapat ikut menentukan siapa yang memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

Teknologi yang Tidak Melupakan Manusia

Cerita berikutnya membawa kita ke dunia pendidikan.

Rindu Puspita Wibawa, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Sistem Informasi UNAIR, memilih jalur akademik sekaligus transformasi digital.

Sejak 2019 ia menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya. Ia mengajar berbagai bidang yang berkaitan dengan sistem informasi dan teknologi, mulai dari Analisis dan Perancangan Sistem, Interaksi Manusia dan Komputer, Data Mining, Kecerdasan Buatan, Internet of Things, hingga analisis dan desain perangkat lunak.

Pada periode 2023–2026, ia dipercaya sebagai Head of Information System Development & Operations UNESA.

Namun perjalanan akademik dan profesional tersebut kemudian membawanya pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar.

Untuk siapa teknologi dikembangkan?

Jawabannya tidak selalu harus tentang efisiensi.

Teknologi juga harus berbicara tentang akses.

Melalui beasiswa LPDP, Rindu melanjutkan studi doktoral di bidang Computer Science di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Fokus risetnya berkaitan dengan pengembangan pedoman desain media pembelajaran digital yang inklusif bagi mahasiswa dengan disabilitas.

Di sini teknologi memperoleh dimensi kemanusiaannya.

Digitalisasi tidak semestinya hanya membuat proses pendidikan lebih cepat.

Digitalisasi harus membuat pendidikan lebih terbuka.

Lebih ramah.

Lebih mudah diakses.

Dan lebih adil bagi mereka yang memiliki kebutuhan berbeda.

Itulah sebabnya perjalanan Rindu menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang beasiswa atau studi doktoral di luar negeri.

Ia adalah cerita tentang bagaimana teknologi dapat diarahkan untuk mengurangi kesenjangan.

Ketika Profesionalisme Berubah Menjadi Gerakan Lingkungan

Kisah Adam Muhammad, S.Kom., M.M., memperluas spektrum tersebut.

Alumni S1 Sistem Informasi FST UNAIR itu meniti karier di PT Jasa Raharja dan kemudian dipercaya sebagai Penanggung Jawab Jasa Raharja Samsat Kota Solok, Sumatera Barat.

Pengalamannya melintasi berbagai fungsi, mulai dari General Affairs, operasional koperasi karyawan, pengelolaan sumbangan wajib, hingga hubungan masyarakat.

Karier tersebut memperlihatkan bahwa lulusan teknologi informasi dapat berkembang dalam lingkungan kerja yang sangat luas.

Namun yang lebih menarik adalah apa yang dilakukannya di luar pekerjaan formal.

Adam menggagas Ocean Defender, gerakan kolaboratif yang mendorong pelestarian lingkungan pesisir di Padang, Sumatera Barat.

Di sini terjadi pertemuan tiga dunia: kompetensi profesional, kepedulian sosial, dan lingkungan.

Pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri.

Pengalaman organisasi bertemu dengan persoalan ekologis.

Kemampuan membangun jaringan bertemu dengan kebutuhan masyarakat.

Dan pada akhirnya, profesi tidak hanya menjadi jalan untuk mencari penghidupan, tetapi juga menjadi pintu menuju pengabdian.

Mangrove dan Makna Pengabdian

Jauh sebelum isu lingkungan menjadi percakapan global yang semakin kuat, perguruan tinggi telah memiliki ruang pengabdian di tengah masyarakat.

Salah satunya tercermin dalam Festival Mangrove ke-VII di Pantai Tambak Bahak, Desa Curah Dringu, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Dalam kegiatan tersebut, UNAIR hadir bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan berbagai unsur masyarakat, dunia usaha, komunitas, civitas academica, serta alumni.

Kegiatannya bukan sekadar seremoni.

Ada penanaman mangrove.

Ada pelepasliaran burung air dan kepiting.

Ada pula layanan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Mangrove ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pesisir yang mempunyai fungsi ekologis sekaligus sosial.

Ia menjadi pelindung garis pantai, habitat berbagai biota, sekaligus bagian dari keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Karena itu, kegiatan tersebut bersinggungan langsung dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama perlindungan ekosistem air, kehidupan bawah laut, kehidupan di daratan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Di sini kembali terlihat bahwa perguruan tinggi dapat hadir bukan hanya melalui teori.

Ilmu dapat turun menjadi bibit yang ditanam.

Menjadi ekosistem yang dijaga.

Menjadi layanan kesehatan yang diterima masyarakat.

Dan menjadi kesadaran bersama bahwa pembangunan tidak boleh hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Ketika Alumni Dipanggil untuk Membantu Daerah

Benang merah tersebut akhirnya sampai pada satu ruang yang sangat konkret: pemerintahan daerah.

Kota Kediri sedang menghadapi tekanan fiskal setelah transfer pemerintah pusat dipangkas sebesar Rp170 miliar.

Situasi tersebut tentu bukan persoalan sederhana.

Ketika anggaran berkurang, pemerintah daerah menghadapi dilema: bagaimana melakukan efisiensi tanpa menurunkan kualitas pelayanan publik?

Pertanyaan itu dibahas dalam kuliah umum bertajuk “APBD Terpangkas, Inovasi Tak Boleh Pangkas: Strategi Kreatif Pemerintah Daerah Meningkatkan PAD dan Pelayanan Publik Daerah” di Balai Kota Kediri pada 10 Oktober 2026.

Momentum tersebut sekaligus dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus IKA UNAIR Kediri Raya.

Pesan yang muncul sangat jelas: anggaran boleh tertekan, tetapi inovasi tidak boleh ikut terpangkas.

Pemerintah daerah bahkan mendorong alumni UNAIR untuk ikut merumuskan gagasan dan memberikan kontribusi nyata.

Optimalisasi aset daerah menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan PAD, sementara inovasi diperlukan agar efisiensi anggaran tidak berujung pada menurunnya kualitas pelayanan masyarakat.

Pada momentum itu, Sulistyo Budi dilantik sebagai Ketua Pengurus Cabang IKA UNAIR Kediri Raya masa bakti 2025–2030.

Ia menegaskan kesiapan IKA UNAIR menjadi mitra strategis pemerintah Kabupaten maupun Kota Kediri.

Alumni dari berbagai disiplin dipandang sebagai kekuatan yang dapat membantu pembangunan, mulai dari kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga sektor strategis lainnya.

IKA UNAIR Kediri Raya juga diarahkan untuk menyusun program kerja kolaboratif dan memperkuat jejaring lintas sektor.

Di sinilah konsep alumni mengalami perluasan makna.

Alumni tidak lagi hanya menjadi komunitas nostalgia.

Alumni menjadi jaringan keahlian.

Ia menjadi jaringan pengalaman.

Ia menjadi jaringan kepercayaan.

Dan ketika pemerintah membutuhkan gagasan untuk menjawab persoalan publik, jaringan tersebut dapat diaktifkan menjadi kekuatan pembangunan.

Dari Alumni Menjadi Modal Sosial

Jika seluruh cerita tersebut disatukan, terlihat bahwa alumni UNAIR bergerak pada medan yang sangat luas.

Ada yang membawa nama almamater ke laboratorium dan jejaring riset internasional.

Ada yang mengubah statistika menjadi dasar pembangunan berbasis data.

Ada yang menggunakan kemampuan analitisnya untuk membantu pembiayaan UMKM.

Ada yang mengembangkan teknologi agar pendidikan semakin inklusif.

Ada yang menjadikan pengalaman profesional sebagai energi gerakan lingkungan.

Ada yang turun ke pesisir bersama masyarakat untuk menanam mangrove.

Dan ada yang dipanggil pemerintah daerah untuk ikut memikirkan masa depan pembangunan ketika ruang fiskal semakin sempit.

Semua itu mempunyai satu persamaan.

Ilmu tidak berhenti pada diri mereka.

Ia mengalir.

Dari kampus menuju masyarakat.

Dari laboratorium menuju kebijakan.

Dari data menuju keputusan.

Dari teknologi menuju akses.

Dari profesi menuju pengabdian.

Dan dari jejaring alumni menuju pembangunan.

Dalam konteks inilah alumni dapat disebut sebagai modal sosial sebuah perguruan tinggi.

Mereka membawa kompetensi, pengalaman, reputasi, jejaring, dan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Jika seluruh potensi tersebut dihubungkan secara sistematis, kekuatannya jauh lebih besar daripada sekadar kumpulan individu yang pernah berkuliah di tempat yang sama.

Ia dapat menjadi ekosistem.

Ilmu yang Menemukan Jalan Pulang

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak cukup diukur dari seberapa banyak alumninya memperoleh jabatan tinggi.

Ukuran yang lebih dalam adalah seberapa banyak ilmu yang pernah diperoleh di kampus tersebut mampu kembali kepada masyarakat dalam bentuk manfaat.

Riset yang membuka jalan.

Data yang membuat kebijakan lebih tepat.

Pembiayaan yang membuka kesempatan bagi UMKM.

Teknologi yang membuat pendidikan lebih inklusif.

Pelayanan publik yang lebih baik.

Lingkungan yang lebih terjaga.

Dan jejaring alumni yang hadir ketika masyarakat membutuhkan solusi.

Di situlah sesungguhnya sebuah almamater menemukan maknanya.

Bukan sekadar tempat seseorang pernah belajar.

Melainkan tempat dari mana gagasan berangkat dan suatu hari menemukan jalan untuk kembali.

Karena pendidikan yang sejati bukan hanya membuat seseorang menjadi lebih pintar.

Ia membuat seseorang menjadi lebih berguna.

Dan mungkin, itulah pesan paling kuat dari rangkaian kisah alumni UNAIR ini:

ilmu yang terbaik bukanlah ilmu yang paling lama tinggal di ruang kuliah, melainkan ilmu yang menemukan jalan pulang kepada masyarakat.