
Anies Baswedan
ACEH TENGAH - Jembatan Titian Persatuan Kemerleng yang membentang di atas Sungai Jambo Aye, Desa Kemerleng, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, resmi dibuka dan kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kehadiran jembatan sepanjang 26 meter tersebut memulihkan akses vital yang sempat terputus akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir 2025.
Peresmian disambut antusias oleh masyarakat setempat melalui prosesi adat Gayo. Dalam kesempatan itu, Anies Baswedan menerima penyematan selendang dan peci khas Gayo sebagai bentuk penghormatan, yang dilanjutkan dengan penampilan Tari Guel, salah satu kesenian tradisional masyarakat Gayo.
Jembatan Titian Persatuan Kemerleng dibangun melalui kolaborasi Humanies Project dan Aksi Bersama dengan dukungan donasi masyarakat Indonesia. Mengusung tema "Musara Mupakat – Menyambung Harapan dari Tanah Gayo melalui Kebersamaan", pembangunan jembatan menjadi simbol semangat gotong royong dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Ketua Panitia Pembangunan, Wardi, mengatakan kerusakan jembatan sebelumnya telah menghambat berbagai aktivitas warga. Anak-anak mengalami kesulitan menuju sekolah, petani kesulitan mengangkut hasil panen, sementara mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas.
"Pembangunan jembatan ini berawal dari musyawarah warga pada 11 April 2026. Saat itu masyarakat sepakat bergotong royong mengumpulkan material batu untuk pondasi serta menyusun jadwal kerja bersama. Setelah material mencukupi, pembangunan dimulai pada 21 April 2026 dan berlangsung selama sekitar satu bulan hingga akhirnya jembatan dapat digunakan kembali," ujar Wardi.
Kini, jembatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi sekitar 250 kepala keluarga di Desa Kemerleng dan sekitarnya. Selain memulihkan konektivitas antarwilayah, keberadaan jembatan juga memangkas waktu tempuh masyarakat hingga satu sampai dua jam dibandingkan jalur alternatif yang sebelumnya harus dilalui.
Dalam sambutannya, Anies menyampaikan bahwa Jembatan Titian Persatuan bukan hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga menjadi simbol bangkitnya harapan masyarakat.
"Jembatan ini bukan sekadar menyambungkan dua tepi sungai. Jembatan ini menyambungkan keputusasaan dengan harapan, menyambungkan ketertinggalan dengan kemajuan, serta menyambungkan kesulitan dengan kemudahan," ujar Anies.
Sebagai simbol peresmian, penyeberangan perdana dilakukan oleh warga yang akan merasakan manfaat langsung dari jembatan tersebut, mulai dari anak-anak sekolah, petani, hingga para lanjut usia. Setelah itu, Anies Baswedan bersama tokoh masyarakat turut menyeberangi jembatan.
Anies menegaskan bahwa pembangunan jembatan merupakan hasil solidaritas masyarakat Indonesia yang mempercayakan donasinya kepada Humanies Project dan Aksi Bersama untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
"Jembatan ini dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia. Kami hanya menjadi penghubung amanah tersebut. Semangat yang ingin dibangun adalah kepercayaan bahwa warga dapat saling membantu ketika ada kebutuhan mendesak yang belum dapat segera dipenuhi," katanya.
Pembangunan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng juga menjadi tonggak baru bagi gerakan Aksi Bersama karena untuk pertama kalinya kegiatan tersebut dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah tanpa dibatasi wilayah.
Hadirnya Jembatan Titian Persatuan menjadi bukti bahwa bencana memang dapat memutus akses, tetapi tidak mampu memutus kepedulian dan kebersamaan. Melalui kolaborasi berbagai pihak dan partisipasi masyarakat, akses yang hilang dapat dipulihkan, sekaligus menghadirkan kembali harapan bagi warga untuk melanjutkan kehidupan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi mereka.
Info Detak.co | Minggu, 26 Juli 2026 
