Korban Gempa NTT Bertambah: 70 Meninggal, 132 Terluka
JUNI KRISWANTO / AFP via Getty Images

JAKARTA - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperbarui data korban gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga laporan terakhir, tercatat 70 orang meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Bramantyo menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers, Selasa (18/8). Berdasarkan laporan tim SAR hingga Senin (17/8) pukul 23.30, total korban yang ditemukan mencapai 202 orang.

Dari jumlah korban luka, sebanyak 40 orang mengalami luka berat, sedangkan 92 lainnya menderita luka ringan.

Bramantyo mengatakan operasi SAR di lapangan kini lebih banyak diarahkan pada penyisiran dan mendukung proses pemulihan. Berdasarkan informasi yang diterima tim, belum terdapat laporan mengenai warga yang masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.

Memasuki hari ketiga penanganan, tim SAR melakukan penyisiran di sejumlah wilayah terdampak sekaligus membantu upaya penanganan yang dikoordinasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara itu, BNPB menyampaikan data berbeda mengenai jumlah korban luka. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan terdapat 1.182 orang yang telah mendapatkan pelayanan akibat luka-luka di fasilitas kesehatan.

Perbedaan angka tersebut disebabkan sumber pendataan yang berbeda. Data Basarnas mengacu pada korban yang ditemukan oleh tim SAR, sedangkan angka BNPB berasal dari Kementerian Kesehatan dan mencakup korban yang mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

Untuk korban meninggal dunia, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 27 orang. Berikutnya Kabupaten Manggarai Timur mencatat 25 korban meninggal.

Korban meninggal juga dilaporkan di Kabupaten Nagekeo sebanyak delapan orang, Sikka empat orang, serta Ngada, Manggarai Barat, dan Ende masing-masing dua orang.

BNPB juga mencatat sekitar 40.040 warga mengungsi akibat gempa. Jumlah tersebut tersebar di Manggarai Timur sekitar 15.465 orang, Manggarai 6.847 orang, Nagekeo 6.221 orang, Sikka 5.681 orang, Ende 3.666 orang, Ngada 1.920 orang, dan Manggarai Barat 600 orang.

Berton mengingatkan bahwa jumlah pengungsi tidak dapat secara langsung digunakan sebagai gambaran tingkat kerusakan rumah akibat gempa. Menurutnya, faktor psikologis yang dirasakan masyarakat turut mendorong warga untuk mengungsi.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Pemerintah Provinsi NTT kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.

Penanganan pascagempa saat ini meliputi pencarian dan penyisiran, pelayanan bagi korban luka, penanganan pengungsi, serta proses pemulihan di wilayah terdampak.