Korban Gempa NTT Bertambah, 72 Orang Meninggal dan 900 Luka
Warga melintas di dekat bangunan toko yang rusak akibat gempa di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Senin (17/8/2026) (Foto: ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 72 orang. Selain korban jiwa, ratusan warga dilaporkan mengalami luka-luka dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

Data tersebut merupakan pembaruan Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB per Kamis (20/8) pukul 09.00 WIB.

"72 orang meninggal dunia," demikian tercantum dalam data Pusdatinkom BNPB.

BNPB juga mencatat sebanyak 900 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi mencapai 82.691 orang dengan total 18.019 kepala keluarga (KK) terdampak.

Dampak gempa juga mengakibatkan kerusakan pada puluhan ribu rumah. Tercatat 29.001 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rumah rusak sedang, dan 10.760 rumah rusak ringan.

Sejumlah fasilitas publik turut terdampak. BNPB mencatat 804 fasilitas pendidikan, 237 fasilitas kesehatan, 195 rumah ibadah, 257 kantor, serta satu gudang Bulog mengalami dampak akibat gempa.

Selain itu, terdapat sembilan fasilitas irigasi, 116 fasilitas umum, 45 titik jalan, satu pasar, dan 16 jembatan yang terdampak.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Pusat gempa berada di Kabupaten Nagakeo.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.

Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi

Kepala BNPB Letjen Suharyanto sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

Meski demikian, Suharyanto meminta masyarakat tidak panik. Ia menjelaskan gempa susulan yang terjadi sejauh ini cenderung memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan gempa utama.

"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama," kata Suharyanto saat menemui penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (19/8), seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Suharyanto juga menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu tsunami. Berdasarkan kajian dan pemantauan BMKG, tidak ada potensi tsunami akibat aktivitas gempa susulan tersebut.

"Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan," ujarnya.

BNPB bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus melakukan penanganan terhadap warga terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan pengungsi serta penanganan dampak kerusakan akibat gempa.