
Foto: ist
TANGERANG - Perkembangan kawasan metropolitan dan kota-kota baru menghadirkan tantangan yang semakin beragam, mulai dari pengendalian banjir, pengelolaan sumber daya air, penyediaan infrastruktur, hingga tata kelola kawasan dalam skala besar.
Kondisi tersebut mendorong perlunya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri untuk menghasilkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menjawab persoalan urbanisasi.
Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan lapangan peserta The 8th International Conference of the Jabodetabek Study Forum 2026 ke kawasan PIK2. Forum yang dibina IPB University ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kawasan metropolitan di Indonesia maupun dunia.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB University, Prof. Ernan Rustiadi, mengatakan kunjungan lapangan memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah kawasan suburban baru dikembangkan dan dikelola dalam skala besar.
Menurut Ernan, pengalaman tersebut penting bagi kalangan akademisi karena pengelolaan kota baru berskala besar merupakan fenomena yang relatif jarang ditemukan.
“Kami ingin belajar bagaimana suatu perusahaan atau korporasi mampu mengelola kawasan suburban baru, kota baru yang berskala besar seperti ini. Dan ini contoh yang langka,” ujar Ernan.
Selain memperoleh pemaparan mengenai tata kelola kawasan, para peserta juga dapat melihat langsung penerapan berbagai sistem yang digunakan dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan.
“Kami sekarang mendengar langsung bagaimana tata kelolanya dijalankan sejauh ini. Dan kami belajar banyak dari kunjungan ini,” katanya.
Persoalan urbanisasi juga menjadi perhatian mahasiswa internasional IPB University asal Kenya, Samuel Kamau. Mahasiswa Program Magister Ilmu Pangan tersebut menilai penyelesaian persoalan perkotaan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta.
Ia menyoroti sejumlah aspek yang berkaitan langsung dengan keberlanjutan kawasan, seperti sistem drainase, pengelolaan air limbah, serta mekanisme pengaliran kelebihan air dari daratan menuju laut.
“Saya percaya bahwa kolaborasi seperti ini antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting untuk membawa penyelesaian konkret dalam hal-hal tentang urbanisasi,” tutur Samuel.
Dari perspektif akademik, Kepala Teaching Laboratory Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Alinda F.M. Zain, melihat pengelolaan kawasan PIK2 juga membuka peluang penelitian lebih lanjut.
Salah satu aspek yang dinilainya menarik adalah sistem pengendalian banjir berbasis teknologi. Menurut Alinda, pengalaman melihat langsung implementasi sistem tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus membuka ruang bagi penelitian kolaboratif.
“Kita juga dapat banyak pengetahuan bagaimana kawasan ini yang memiliki keunikan bisa mengendalikan banjir dengan teknologi tinggi,” kata Alinda.
Ia menilai pengalaman lapangan dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan kajian yang lebih mendalam di kemudian hari.
“Mungkin IPB akan melakukan riset di sini kalau boleh. Ini namanya learning by doing, learning from the field,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan mahasiswa internasional Program Teknik Agroindustri IPB University, Grace Tzonzo. Ia memberikan perhatian khusus terhadap teknologi yang diterapkan dalam sistem pengelolaan air dan pengendalian banjir di kawasan tersebut.
Sebagai mahasiswa yang berasal dari negara yang tidak memiliki wilayah laut, Grace menilai kunjungan tersebut memberikan perspektif baru mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menghadapi persoalan air di kawasan perkotaan.
“Di sini saya bisa melihat langsung bagaimana banjir dapat dikendalikan untuk memperbaiki kondisi lingkungan,” kata Grace.
Ia juga tertarik pada penerapan otomatisasi dan energi terbarukan dalam sistem pompa yang digunakan di kawasan.
“Hal yang paling menarik bagi saya adalah sistem pompanya karena menggunakan teknologi otomatisasi dan juga memanfaatkan energi terbarukan. Itu menjadi salah satu hal yang paling mengesankan,” ujarnya.
Kunjungan lapangan dalam rangkaian The 8th International Conference of the Jabodetabek Study Forum 2026 tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kota baru dapat menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan industri dan kepentingan akademik.
Bagi perguruan tinggi, kawasan perkotaan berskala besar menyediakan laboratorium nyata untuk mengembangkan penelitian berbasis lapangan. Sementara bagi pelaku industri, keterlibatan akademisi dapat menghadirkan perspektif ilmiah untuk memperkuat pengambilan keputusan dan menjawab tantangan pembangunan perkotaan secara berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menghasilkan inovasi dan solusi yang relevan dalam menghadapi pertumbuhan metropolitan serta dinamika urbanisasi di masa mendatang.
Info Detak.co | Senin, 10 Agustus 2026 
