Mau Dibawa ke Mana Suara Anak Abah? Ini Jawaban Anies Baswedan

YOGYAKARTA - Anies Baswedan pada Pilpres 2024 mendapatkan 41 juta suara. Salah satu fenomena yang muncul adalah sebutan 'anak abah' dan 'abah nasional' yang beberapa kali trending dan menghiasi pemberitaan media massa. Mereka dikenal sangat militan.

Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan bahwa sebutan 'anak abah' ini merupakan kelompok yang mempercayakan Anies menjadi pemimpin. JJ Rizal menanyakan kepada Anies Baswedan dalam acara Q&A Metro TV, Minggu, 8 September 2024.

"Mau dibawa ke mana orang-orang yang sudah mempercayakan Anda setelah Pilpres?" tanya JJ Rizal kepada Anies.

Anies Baswedan menceritakan pengalamannya saat Pilpres 2024 sebagai momen dengan jabat tangan terbanyak. Di sana ada titipan harapan yang menginginkan adanya perubahan dalam kehidupan sehari-hari, baik perubahan ekonomi, hukum, demokrasi, ekologi, dan lainnya.

Proses politik sudah dilalui, dan hasilnya sudah diputuskan. Itu yang harus dihormati. Kemudian, bagaimana dengan mereka yang masih mengharapkan perubahan?

Anies mengatakan hal utama adalah menjaga harapan itu agar tidak hilang. Karena jika hilang, akan muncul apatisme yang luar biasa. "Caranya, berikan pesan kepada semua bahwa kami tetap berjuang bersama Anda. Kami masih berada di jalan yang sama dengan Anda," kata Anies acara Q&A Metro TV dikutip Minggu, 8 September 2024.

Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 ini mengatakan, untuk itu penting mewadahi mereka dalam upaya membentuk kesamaan konsistensi. Badan hukum bisa berbentuk ormas atau partai politik.

Bahkan, kata Anies, tanpa ormas atau partai politik pun, ketika konsisten dengan gagasan yang disebarluaskan melalui berbagai outlet, mereka yang berjuang bersama tidak merasa ditinggalkan.

Kalau ada badan, maka secara hukum kita memiliki institusi. Misalnya, bidang ekonomi bisa berbentuk CV atau PT, bidang sosial bisa berbentuk yayasan, dan untuk bidang politik, ada ormas atau partai. "Nah, institusi hukumnya sedang kita kaji. Mana yang paling tepat dan langkahnya apa," kata Anies.

Suami Fery Farhati ini menegaskan tidak gegabah dalam menentukan langkahnya, apakah bergabung dengan partai politik, mendirikan partai, atau ormas. "Kita tidak ingin gegabah. Namun, di balik ada atau tidaknya badan, persepsi dan harapan harus tetap hidup, bahwa perubahan itu tidak ditinggalkan," tegasnya.