
Plh. Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Oki Waskito mengatakan, polisi mengamankan dua orang terduga pelaku penistaan agama dalam kasus video viral challenge menghafal ayat Al-Qur'an untuk mendapatkan minuman keras (miras) di sebuah festival musik di
JAKARTA - Polisi mengamankan dua orang yang diduga terlibat dalam kasus tantangan hafalan Al-Qur’an yang disebut ditukar dengan minuman keras (miras) dalam festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara.
Kedua orang yang diamankan tersebut masing-masing berinisial R, seorang perempuan, dan E, seorang laki-laki. Keduanya kini berada di Polres Metro Jakarta Utara untuk menjalani pemeriksaan.
“Pelaku penistaan saat ini sudah diamankan di Polres Metro Jakarta Utara,” kata Plh Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Oki Waskito kepada wartawan, Rabu (12/8/2026).
Oki mengatakan, penyidik selanjutnya akan melakukan gelar perkara untuk menentukan langkah hukum terhadap kedua terduga pelaku. Gelar perkara dijadwalkan dilakukan pada Rabu malam atau paling lambat Kamis.
“Rencananya nanti malam akan digelar, paling lambat besok karena waktu 24 jam dari tadi pagi untuk menentukan peningkatan menjadi proses sidik,” ujarnya.
Kasus tersebut sebelumnya ramai di media sosial setelah beredar video yang memperlihatkan sebuah booth produk minuman keras di festival The Sounds Project menggelar tantangan hafalan salah satu surah dalam Al-Qur’an. Pengunjung disebut diminta menghafalkan Surah Ad-Duha dengan imbalan berupa minuman keras.
Peristiwa tersebut terjadi saat festival musik The Sounds Project yang digelar di Jakarta Utara pada Minggu (9/8/2026).
Video yang beredar di media sosial memicu kecaman dari berbagai pihak. Penyelenggara The Sounds Project kemudian menyampaikan sikap resmi dan mengecam aksi yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan maupun promosi produk.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa aktivitas tersebut tidak pernah menjadi bagian dari arahan, persetujuan, maupun kendali mereka sebagai penyelenggara acara.
“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” demikian pernyataan resmi The Sounds Project.
Penyelenggara juga menegaskan bahwa kejadian tersebut berada di luar arahan dan persetujuan pihaknya.
Selain penyelenggara, pemandu acara atau MC di booth Newport, Revnaldo Ega, turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Threads miliknya.
Ega mengaku bertugas sebagai MC di booth Newport pada Minggu (9/8/2026). Ia menyebut kejadian tersebut merupakan tindakan spontan dari audiens dan tidak berkaitan dengan pihak Newport.
“Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung,” ujarnya.
Ia juga mengakui adanya kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menyatakan akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya.
Manajemen Newport turut menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul. Direktur Newport Handoko Sasongko mengatakan aktivitas tersebut bukan bagian dari program, konsep promosi, challenge, ataupun arahan yang dibuat dan direncanakan oleh pihaknya.
Menurut Handoko, aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi. Meski demikian, pihaknya mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan.
“Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi,” kata Handoko.
Polisi kini masih mendalami kasus tersebut untuk menentukan status hukum kedua orang yang diamankan serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Info Detak.co | Kamis, 13 Agustus 2026 
