
SURABAYA — Upaya memperluas pembelajaran Al-Qur’an kini diarahkan tidak hanya melalui ruang-ruang pendidikan konvensional. Indonesia Berbagi Kebaikan (IBK) bersama Yayasan Al Falah Ketintang Madani mengembangkan Qur’ana Centre Al Falah IBK, sebuah ekosistem yang menghubungkan pendidikan Al-Qur’an, penguatan guru ngaji, wakaf, fundraising, teknologi digital, hingga pemberdayaan masyarakat.
Kesepakatan pengembangan tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang disepakati secara daring pada Senin (12/10/2026). Proyek ini berpusat di Rumah Qur’an Al Falah, Jalan Ketintang Wiyata Nomor 84, Surabaya.
Dalam perkembangannya, konsep Qur’ana Centre tidak berhenti sebagai sebuah pusat pembelajaran fisik. Aplikasi Berbagi Kebaikan diposisikan sebagai platform digital yang menghubungkan berbagai aktivitas Qur’ana Centre dengan masyarakat yang lebih luas.
Dokumen kerja sama menetapkan Qur’ana Centre sebagai pilot project yang mengintegrasikan pendidikan Al-Qur’an, Metode Qur’ana, pelatihan guru ngaji, Agent Kebaikan, dakwah, wakaf Al-Qur’an, wakaf produktif, fundraising, teknologi digital, komunitas, dan jejaring kemitraan.
Dari Rumah Qur’an ke Ekosistem Digital
Selama ini Rumah Qur’an Al Falah telah menjadi tempat pembelajaran Al-Qur’an, kegiatan guru ngaji, sosialisasi dan pelatihan Metode Qur’ana serta pengembangan konsep Agent Kebaikan.
Kerja sama tersebut kemudian diarahkan untuk membangun sistem yang lebih terintegrasi. Rumah Qur’an diproyeksikan menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an, pelatihan guru ngaji, pengembangan Agent Kebaikan, ekosistem digital Qur’ana, wakaf, fundraising, dakwah, komunitas, serta pemberdayaan masyarakat.
Konsep itu kemudian diterjemahkan ke dalam fitur baru Qur’ana Centre pada Aplikasi Berbagi Kebaikan.
Melalui fitur tersebut, masyarakat nantinya dapat mengakses berbagai aktivitas Qur’ani dalam satu ekosistem digital. Bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengikuti tahsin, mengembangkan kemampuan tahfidz, belajar menjadi guru ngaji, memperoleh sertifikasi, bergabung dalam komunitas, hingga berpartisipasi dalam wakaf dan kegiatan pemberdayaan.
Delapan Fitur Utama
Konsep tampilan Qur’ana Centre yang diperkenalkan melalui materi visual pengembangan aplikasi memuat sejumlah subfitur utama.
Pertama, Belajar Qur’ana, sebagai ruang pembelajaran berjenjang menggunakan pendekatan Metode Qur’ana.
Kedua, Tahsin & Tadriibaat, yang diarahkan untuk membantu pengguna memperbaiki makhraj, sifat huruf dan kualitas bacaan.
Ketiga, Tahfidz & Generasi Robbaniyyin, yang mengembangkan hafalan sekaligus pembinaan keislaman dan karakter.
Keempat, Guru Ngaji, yang membuka ruang pembelajaran, pelatihan dan pengembangan kapasitas pengajar.
Kelima, Sertifikasi, sebagai bagian dari pengakuan atas proses pembelajaran dan kompetensi yang telah ditempuh.
Keenam, Agent Kebaikan, yang menjadi penghubung antara proses belajar dengan gerakan sosial.
Ketujuh, Rumah Qur’an, yang dapat dikembangkan sebagai jejaring pusat pembelajaran dan aktivitas Qur’ani.
Kedelapan, Wakaf & Dukung Qur’ana, yang menghubungkan aktivitas pendidikan dengan wakaf Al-Qur’an, wakaf produktif dan fundraising.
Struktur tersebut sejalan dengan ruang lingkup PKS yang mencakup pembelajaran Al-Qur’an, pelatihan Metode Qur’ana, pengembangan guru ngaji, Training of Trainers, Rumah Qur’an, Agent Kebaikan, ekosistem digital, Aplikasi Berbagi Kebaikan, wakaf, fundraising dan pemberdayaan.
Guru Ngaji Tak Hanya Mengajar
Salah satu gagasan yang menonjol dalam pengembangan Qur’ana Centre adalah perubahan posisi guru ngaji dari sekadar pengajar menjadi penggerak masyarakat.
Model yang dikembangkan menggunakan empat tahapan:
Belajar → Mengajar → Menggerakkan → Memberdayakan.
Dengan pendekatan itu, seseorang yang semula mengikuti pembelajaran Al-Qur’an dapat berkembang menjadi guru ngaji, kemudian menjadi Agent Kebaikan, membangun komunitas, dan ikut menggerakkan berbagai kegiatan sosial serta pemberdayaan.
Konsep tersebut telah menjadi bagian dari kegiatan yang berjalan di Rumah Qur’an Al Falah. Peserta pelatihan juga telah mendapatkan sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas proses pembelajaran yang mereka ikuti.
Teknologi Bertemu Wakaf
Pengembangan Qur’ana Centre juga mempertemukan dua kekuatan yang selama ini berjalan pada jalur masing-masing: pendidikan Al-Qur’an dan gerakan wakaf.
Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) ditempatkan sebagai unsur strategis dalam pengembangan wakaf Al-Qur’an, wakaf produktif, dakwah, fundraising dan pemberdayaan. Sementara IBK berperan dalam pengembangan ekosistem, digitalisasi, fundraising dan jejaring kemitraan. Yayasan Al Falah Ketintang Madani menjadi salah satu basis pendidikan Al-Qur’an dan pengembangan Metode Qur’ana.
Dengan pola tersebut, satu aktivitas pembelajaran dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Seorang pengguna dapat belajar melalui aplikasi, mengikuti pelatihan, berinteraksi dengan guru, bergabung dengan Rumah Qur’an, menjadi Agent Kebaikan, kemudian ikut menggerakkan wakaf dan program sosial.
Teknologi menjadi penghubung, sementara Rumah Qur’an menjadi pusat aktivitasnya.
Dari Ketintang Menuju Indonesia
Qur’ana Centre Al Falah IBK dirancang sebagai model yang tidak berhenti di Ketintang.
Dalam roadmap kerja sama, pengembangan dilakukan melalui empat tahap. Tahap pertama mempertahankan kegiatan yang telah berjalan, mulai dari pembelajaran, sosialisasi, pelatihan hingga sertifikasi. Tahap kedua memperkuat fungsi Qur’ana Centre. Tahap ketiga mengembangkan jejaring guru ngaji, Agent Kebaikan, komunitas, wakaf, fundraising dan pemberdayaan. Tahap terakhir adalah replikasi.
Arah replikasinya dirumuskan:
> Ketintang → Surabaya → Jawa Timur → Indonesia.
Karena itu, aplikasi menjadi penting. Jika Rumah Qur’an menjadi pusat aktivitas secara fisik, maka Aplikasi Berbagi Kebaikan menjadi ruang digital yang memungkinkan model tersebut terkoneksi dan diperluas.
Empat Kekuatan dalam Satu Ekosistem
Pengembangan Qur’ana Centre juga mempertemukan empat unsur yang saling melengkapi:
Yayasan Qur’ana sebagai pengampu keilmuan dan Metode Qur’ana;
Yayasan Al Falah Ketintang Madani sebagai basis pendidikan, Rumah Qur’an dan implementasi;
Indonesia Berbagi Kebaikan sebagai pengampu ekosistem digital, kemitraan dan pemberdayaan;
serta Badan Wakaf Al-Qur’an sebagai penguat wakaf, fundraising, dakwah dan perluasan manfaat.
Dalam konsep proyek, Aplikasi Berbagi Kebaikan ditempatkan sebagai platform ekosistem digital, sementara Qur’ana Centre menjadi pusat integrasi berbagai kegiatan tersebut.
Bukan Sekadar Fitur Baru
Pada akhirnya, Qur’ana Centre tidak sekadar diproyeksikan sebagai tambahan menu pada sebuah aplikasi.
Lebih jauh, fitur ini membawa gagasan tentang bagaimana pembelajaran Al-Qur’an dapat terhubung dengan ekosistem kebaikan yang lebih luas.
Al-Qur’an menjadi pintu masuk. Pendidikan menjadi prosesnya. Guru ngaji menjadi penggeraknya. Teknologi menjadi penghubungnya. Wakaf menjadi salah satu instrumen keberlanjutannya. Komunitas menjadi ruang tumbuhnya. Dan pemberdayaan masyarakat menjadi tujuan kebermanfaatannya.
Rumusan inti proyek pun menempatkan Qur’ana Centre sebagai pusat pembelajaran Al-Qur’an, pelatihan Metode Qur’ana, pengembangan guru ngaji dan Agent Kebaikan, sekaligus simpul wakaf, fundraising, teknologi digital dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, dari sebuah Rumah Qur’an di Ketintang, sedang dibangun sebuah model yang diharapkan mampu tumbuh menjadi ekosistem Qur’ani digital dan gerakan kebaikan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Dari Al-Qur’an tumbuh gerakan, dari kolaborasi meluas kebermanfaatan.
Info Detak.co | Jumat, 16 Oktober 2026 
