
SURABAYA-Perjalanan Panjang Kota Surabaya sejak bernama Ujung Galuh hingga saat ini harus dirangkai dalam literasi ilmiah dan pencatatan yang utuh sebagai dasar edukasi bagi generasi penerus dalam menjaga rel pembangunan Kota Pahlawan.
Kota Surabaya sampai saat ini dominan identik sebagai Kota Pahlawan karena Pertempuran 10 November 1945 dan Kisah "Sawunggaling" yang mendunia karena perjalanan kehidupannya.
Di atas itu selain Kemenangan Raden Wijaya dalam mengusir tentara Tar- Tar di Ujung Galuh dengan semboyannya yang membumi "Satyam Eva Jayate" kebenaran pasti akan menang, ternyata ada kisah yang belum didicatatkan secara komprehensif.
Wajah Toleransi dibentuk sebagai peradaban yang harmoni dengan berbagai macam suku, agama, ras bisa bergandengan tangan pada Era Ki Ageng Supo "Sunan Bungkul" dilanjutkan dengan Sunan Ampel.
Panji Wiryakrama pada Abad ke 16 menjalin aliansi Politik dengan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya dengan menikahi putrinya. Kedudukan dan legitimasi sebagai Adipati Surabaya semakin kokoh dengan status menantu Raja Pajang, Adipati Surabaya dan Mampu mengkoordinir Brang Wetan (Jawa Timur) saat ini.
Kelak Panji Wiryakrama memiliki keturunan bergelar Panembahan Jayalengkara yang mampu menahan hegemoni Mataram era Sultan Agung dalam pengepungan panjang Surabaya.
Kisah Panembahan Jayalengkara jarang didalami, dilakukan observasi ilmiah dan peninggalannya padahal sarat akan nilai sejarah sebagai bekal membangun peradaban.
Pusat kekuasaan Surabaya pada era Panembahan Jayalengkara yang bertahta 1601-1625 terletak di Wilayah Bungkul. Daerah Bungkul sendiri adalah kawasan strategis karena merupakan hulu dua sungai besar di Surabaya yaitu Kali Mas dan Kali Jagir.
"Ini kan perlu didalami oleh Pemerintah Kota, para sejarawan, budayawan dan peneliti agar kita tidak kepaten Obor. Seperti pesan Bung Karno agar kita tidak sekali- sekali melupakan sejarah", kata tokoh Surabaya Achmad Hidayat.
Dirinya juga mengaitkan dengan penemuan makam kuno di wilayah Darmo 12 Tahun lalu bertuliskan Jawa kuno dan batu nisan menyerupai mahkota dalam kawasan Bungkul yang sekarang menjadi restoran dan hilang tanpa jejak.
"Kalau ada makam kuno itu merupakan jejak sejarah vital, di area Bungkul apa masih ada kaitan dengan sunan bungkul atau peradaban era Panembahan Jayalengkara. Harus menjadi perhatian kita semua", tegasnya
Ia juga meminta agar pengampu kepentingan bisa memperhatikan pesan Presiden Prabowo Subianto agar kepala daerah dan lintas sektor bisa menjaga , merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya.
"Bangun peradaban dengan api perjuangan para pendahulu kita, seperti pesan Bung Karno warisi apinya bukan abunya", imbuhnya.
Info Detak.co | Selasa, 10 Februari 2026 
