Sumatera Blackout Meluas, Eddy Soeparno Desak PLN Audit Transmisi dan Percepat Proyek Smart Grid
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, memberikan respons keras atas insiden pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda sejumlah wilayah di pulau Sumatera.

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, memberikan respons keras atas insiden pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda sejumlah wilayah di pulau Sumatera. Gangguan besar tersebut dilaporkan berdampak langsung pada lebih dari 13 juta pelanggan serta melumpuhkan berbagai sektor aktivitas ekonomi masyarakat.

Eddy menegaskan bahwa ambruknya sistem kelistrikan dalam skala masif ini menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur energi nasional masih memiliki kerentanan yang sangat serius. Ia meminta manajemen PT PLN (Persero) tidak menganggap enteng peristiwa ini sebagai kejadian alam biasa.

Sorotan Kerentanan Infrastruktur dan Perubahan Iklim

Anggota DPR RI Komisi XII ini menyoroti dalih yang disampaikan PLN mengenai cuaca buruk serta adanya gangguan pada jalur transmisi 275 kV Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi. Menurut Eddy, alasan tersebut justru harus menjadi alarm bahaya bagi ketahanan energi nasional:

  • Audit Total Jaringan: PLN didesak segera melakukan audit menyeluruh terhadap keandalan jaringan transmisi, sistem proteksi otomatis, serta keandalan mitigasi risiko bencana.

  • Adaptasi Cuaca Ekstrem: Mengingat dunia sedang menghadapi era perubahan iklim, infrastruktur kelistrikan dituntut memiliki sistem cadangan yang kokoh agar gangguan di satu titik tidak memicu efek domino yang memadamkan seluruh wilayah.

  • Transparansi Publik: PLN diminta untuk jujur dan terbuka mengenai akar masalah utama gangguan ini demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mutu pelayanan publik.

Dampak Sistemik dan Solusi Modernisasi Grid

Sebagai Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia, Eddy menggarisbawahi bahwa kerugian dari insiden blackout ini sangat masif, mulai dari mandeknya operasional pelaku usaha, gangguan layanan publik, lumpuhnya jaringan komunikasi, hingga kekacauan aktivitas rumah tangga di Sumatera.

Sebagai langkah solutif ke depan, Eddy mendorong pemerintah dan PLN mengambil langkah proaktif berupa:

  1. Akselerasi Smart Grid: Mempercepat modernisasi jaringan listrik nasional berbasis teknologi pintar (smart grid) yang mampu mendeteksi dan mengisolasi gangguan secara mandiri.

  2. Penguatan Interkoneksi: Mempertebal konektivitas jaringan antarwilayah agar pasokan listrik dapat dialihkan secara fleksibel saat terjadi keadaan darurat.

"Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi nasional. Ketahanan energi bukan hanya soal pasokan listrik tersedia, tetapi juga soal keandalan sistem ketika menghadapi gangguan," pungkas Eddy Soeparno, Minggu (24/5/2026).