
Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/09) dini hari. | Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap adanya kelalaian dalam proses pendistribusian makanan bergizi gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan, makanan MBG seharusnya langsung didistribusikan setelah proses memasak dan tidak boleh melewati batas waktu yang telah ditetapkan.
"Itu karena ketidakdisiplinan dari SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading empat jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari empat jam," kata Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9/2026).
Menurut Ketut, keterlambatan distribusi menjadi persoalan serius karena makanan MBG tidak menggunakan bahan pengawet. Kondisi tersebut membuat makanan lebih mudah basi apabila terlalu lama berada di luar batas waktu distribusi.
"Nah, itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang," ujarnya.
BGN sebelumnya telah menetapkan mekanisme pengawasan dua kali dalam sehari. Pengawasan dilakukan pada pukul 17.00 WIB saat bahan makanan tiba dan pukul 02.00 WIB ketika proses memasak dimulai.
"Kita setiap hari, dua kali sehari kita melakukan apel kesiagaan MBG, mulai dari jam 2 malam terus jam 5 sore. Karena waktu-waktu itu waktu krusial pemilihan bahan, kalau jam 5 kan sampai, masak jam 2 pagi," jelas Ketut.
Namun, Ketut mengakui aturan tersebut belum sepenuhnya dipatuhi di lapangan. Sejumlah kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), petugas penanggung jawab (PIC), hingga sekolah disebut masih mendistribusikan makanan melewati batas waktu yang ditentukan.
"Kenyataannya masih ada di beberapa daerah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC, termasuk ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan," katanya.
512 Santri Terdampak
Kasus keracunan tersebut terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo. BGN mencatat sebanyak 512 santri terdampak setelah mengonsumsi menu MBG.
"Total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang," ujar Ketut dalam keterangannya, Rabu (2/9).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebanyak 312 santri lainnya telah diperbolehkan pulang setelah dinyatakan sembuh.
Sementara itu, 120 santri masih menjalani observasi untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.
BGN bersama dinas kesehatan setempat telah melakukan investigasi untuk mengetahui secara pasti penyebab insiden tersebut. Sebagai langkah penanganan, BGN juga menjatuhkan sanksi terhadap SPPG yang bertanggung jawab atas distribusi MBG.
SPPG Sidoarjo Talang Angin dikenai penghentian sementara atau suspend dengan kategori berat selama 30 hari.
"Yang pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan dinas kesehatan terkait dan hasilnya nanti kita akan umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan," kata Ketut.
"Kemudian kami juga melakukan suspend dengan kategori berat selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Talang Angin," sambungnya.
Info Detak.co | Jumat, 04 September 2026 
