
Wakil Ketua Umum (Waketum) Gerakan Rakyat, Yusuf Lakaseng menyoroti terkait tingginya kerentanan serta lemahnya mitigasi penanganan bencana alam di Indonesia.
"Indonesia adalah toserba bencana alam. Ada banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, gunung meletus, gempa dan tsunami. Nyaris setiap tahun selalu saja terjadi berbagai bencana alam secara berulang," ujar Yusuf dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
"Keberulangannya menjadikannya normal dan perasaan kenormalan itu telah menjadikan kita seakan menerima dengan pasrah dampak kerusakan serta kemampuan membunuh dan memusnahkannya," tambahnya.
Ia pun membandingkan kondisi Indonesia dengan negara lain yang menjadikan bencana sebagai bahan pembelajaran dan laboratorium hidup untuk menekan dampak destruktifnya. Menurutnya, bencana seperti banjir, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat dicegah.
"Perlu diketahui akar masalahnya, yaitu tangan serakah manusia melalui ekspansi modal difasilitasi kekuasaan negara melakukan eksploitasi berlebihan pada alam. masalahnya dari tahun ketahun dan dari pemerintahan yang satu kepemerintahan yang lain, kita bukannya membereskan akar masalahnya agar bencana yang sama tidak terulang tapi malah memperparahnya," jelas Yusuf.
Lebih lanjut, Yusuf menyoroti deforestasi akibat alih fungsi hutan untuk perkebunan skala besar, Hutan Tanaman Industri (HTI), pertambangan, dan proyek food estate terus bertambah sebagai penyebab banjir. Selain itu, pengeringan lahan gambut akibat alih fungsi juga dinilai menjadi pemicu maraknya karhutla.
"Kebijakan pembangunan ekonomi kita yang terlalu bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam adalah bom waktu. Kita bukannya mencegah bencana justru malah mengundang bencana," tuturnya.
Terkait bencana yang tidak dapat dicegah seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi, Yusuf menilai Indonesia masih belum siap mengantisipasinya. Padahal, data sains menunjukkan Indonesia berada di jalur Ring of Fire akibat pertemuan tiga lempeng tektonik utama.
"Sehingga menjadikan Indonesia rawan terjadi bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi. Bahkan BMKG telah memperingatkan akan adanya potensi gempa megathrust dengan perkiraan kekuatan mengerikan 8 sampai 9 magnitudo di 14 titik dengan sebaran 11 titik di Indonesia membentang mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku sampai Papua dan 3 titik di Filipina," ungkap Yusuf.
Yusuf mendorong Indonesia mencontoh Jepang dalam membangun ketahanan bencana. Jepang dinilai tidak berusaha menghentikan gempa, melainkan membangun sistem, teknologi bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini (Earthquake Early Warning), serta budaya kesiapsiagaan masyarakat secara berkelanjutan.
"Di Jepang masyarakat dilatih terus-menerus dengan melakukan latihan evakuasi, simulasi penyelamatan, menyiapkan jalur evakuasi, persediaan darurat dan organisasi kesiapsiagaan di tingkat lingkungan. Yang paling penting, mereka mengubah cara berpikir 'gempa tidak bisa dicegah, tetapi kematian dan kehancuran akibat gempa bisa dikurangi secara drastis’," pungkasnya.
"Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan tentang gempa. Yang sering menjadi masalah adalah pengabaian sains dan sikap yang tidak mau belajar dari pengalaman, sehingga terjadi kesenjangan antara pengetahuan, regulasi, pelaksanaan dan pengawasan. Kita akhirnya selalu jadi keledai yang terus jatuh dilubang yang sama," tutup Yusuf.
Sekadar informasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 1.532 bencana terjadi di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 20 Agustus 2026, dengan dominasi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kebakaran hutan.
Info Detak.co | Jumat, 28 Agustus 2026 
