Dari Ujung Republik Bergerak Gapai Cita-Cita Gerakan Rakyat
Ketum Gerakan Rakyat Sahrin Hamid di Manado, Kamis 12 Februari 2026.

Perjalanan seorang Sahrin Hamid, SH dari Perbatasan Merauke (Papua) menuju Miangas (ujung Nusa Utara) bukan sekadar rute geografis. Ini merupakan narasi politik yang ingin memberi makna simbolik atas perjalanan partai yang Sahrin bangun bersama rekan-rekannya. 

Mulai dari titik paling nol Republik Indonesia, dan bertekad gigih memperjuangkan kesejahteraan rakyat di segala penjuru negeri.
Perjalanan ini mencerminkan sebuah ide besar yang menggambarkan bahwa partai bukanlah sekadar struktur elit di ibukota, partai harus merasakan denyut jadi warga desa, rakyat pelosok yang jauh dari gemerlap kekuasaan, dari Merauke sampai Miangas. Di sana, gerakan politik bertemu rakyat yang paling ujung, dari anak-anak di Kampung Bahari Merauke yang menerima buku dan pulpen sebagai simbol harapan pendidikan, hingga komunitas warga perbatasan yang sehari-hari mempertahankan kedaulatan Indonesia di garis paling depan negeri. 

Manado jadi Titik Transit untuk Mengenang Jejak

Transit di Manado bukan sekadar persinggahan. Bagi Sahrin, itu adalah rekoleksi atas masa lalu yang menyimpan banyak kenangan.  
Jalan Roda, tempat ia dulu sering singgah sebagai aktivis, duduk bersama para mahasiswa, pemuda, dan kawan seperjuangan lain yang membangun wacana politik dari bawah. 

Di Jalan Roda, obrolan ringan bisa berubah jadi kritik tajam tentang masa depan bangsa, tentang bagaimana kekuasaan harus melayani rakyat, bukan mengeksploitasi mereka yang lemah.

Di sana pula ia bertemu sahabat-sahabat lama, Ridwan Ngilu (ketua Ormas Gerakan Rakyat Sulut), Bung Agnes Supit (Sekretaris Wilayah Partai), serta aktivis-aktivis muda dari Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) seperti Jufri Pilomonu dan Noldi Tumangkeng. Hadir pula tokoh politik berpengalaman seperti Haji Basman (mantan anggota DPRD Kota Manado), figur lokal yang menunjukkan bahwa politik bukanlah monopoli orang Jakarta, tetapi panggilan bagi mereka yang benar-benar peduli pada rakyat.

Transit yang bermakna ini bisa pula berwujud reuni, ini bisa jugaenjadi momentum konsolidasi ide dan semangat.  Sahrin menghubungkan masa lalu sebagai aktivis dengan masa kini sebagai pemimpin partai yang mencoba mewujudkan perubahan struktural.

Sahrin Hamid, Figur, Jejak, dan Arah Politiknya

Sahrin Hamid bukanlah figur abstrak, Sahrin telah dikenal dalam panggung politik nasional. Sebagai mantan juru bicara Anies Baswedan, ia pernah memainkan peran strategis dalam komunikasi politik skala nasional, termasuk pada Pilpres 2024.  Sahrin juga pernah duduk di kursi Komisaris PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebelum mundur setelah dipercaya sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat periode 2026–2031, sebuah amanah yang menunjukkan pergeseran dari birokrasi korporat ke politik organisasi massal. 

Sahrin mundur dari posisi komisaris BUMD bukan semata administratif.  Langkahnya mencerminkan sebuah jawaban politik yang tegas bahwa memilih garis perjuangan yang berbasis rakyat dan sistem politik demokratis, ketimbang posisi nyaman di birokrasi perkotaan.

Sebagai Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin menekankan bahwa partainya lahir dari “titik nol” — artinya, ia ingin membangun basis politik dari bawah, bukan sekadar mengandalkan mesin politik klasik. Partai yang ia pimpin menempatkan diri sebagai wadah aspirasi sosial, menempatkan isu kesejahteraan rakyat di garis depan, pendidikan, pemerataan ekonomi, dan keadilan sosial.

Sahrin Membela Warga Sulut

Thomas Trikasih Lembong atau akrab disapa Tom Lembong adalah putra dari Yohanes Lembong, ayahnya seorang dokter ahli jantung dan THT yang berasal dari Manado.

Tom Lembong, figur nasional berlatar teknokrat dan eks-Menteri Perdagangan, Tom Lembong menjadi simbol perdebatan tentang keadilan hukum dan kriminalisasi politik.

Saat kasus hukum yang menjeratnya menjadi sorotan publik, Sahrin muncul secara tegas menyerukan pembebasan Tom Lembong, yang menurutnya adalah korban kriminalisasi politik dan hukum.

Ini bukan sekadar solidaritas personal. Ini adalah pernyataan politik yang kuat bahwa Gerakan Rakyat tidak hanya memperjuangkan kesejahteraan sosial, tetapi juga tegaknya prinsip keadilan substantif.  Dalam narasinya, Sahrin menautkan perjuangan politik dengan dakwaan terhadap ketidakadilan sistemik, sebuah langkah yang mengukuhkan citra partainya sebagai koalisi yang menantang arus kekuasaan mapan.

Relevansi Identitas dan Kolektivitas Kebangkitan politik 

Sahrin di Manado juga membuka ruang refleksi tentang identitas putra daerah Sulawesi Utara, yang memiliki sejarah gerakan sosial dan politik kuat, dari ruang mahasiswa sampai organisasi kemasyarakatan. Figur-figur lokal dan komunitas seperti Jalan Roda adalah simbol politik partisipatif, bukan politik top-down. Pertemuan dengan para aktivis muda memperlihatkan bahwa Sahrin tidak melupakan akar gerakan rakyat, bahkan ia memegangnya sebagai landasan untuk memperluas basis partai politiknya di Sulut dan Indonesia Timur.

Narasi Politik dari Ujung Negeri

Perjalanan Sahrin Hamid dari Merauke ke Miangas via Manado adalah sebuah metafora politik, Sahrin bergerak di antara realitas paling ujung negeri, menyapa rakyat yang sesungguhnya, dan mengaitkan pengalaman lokal dengan gagasan perubahan nasional.

Sahrin memilih Transit di Manado, itu karena Manado menyimpan banyak cerita dan penting untuk bernostalgia, membangun solidaritas, dan mematangkan konsolidasi ide, ini bisa menjadi fokus bahwa politik sejati lahir dari ruang dialog, bukan dari kantor ber-AC di pusat pemerintahan.

Sahrin, dengan rekam jejaknya yang unik, menunjukkan bahwa menjadi aktor politik besar bukan hanya soal pencapaian struktur, melainkan tentang kemampuan merangkul rakyat, menyuarakan keadilan, dan menempatkan diri di sisi perjuangan mereka yang paling nyata.

Sedikit catatan saat minum kopi yang tak sempat habis di jarod hari ini ????
 

Baso Affandi. Aktivis 98 Manado