Harimau yang Hilang: Mengapa Gerakan Rakyat Akan Nampak Lebih Impresif Manakala Disimbolkan oleh Harimau Jawa? Sebuah Kajian Pendek Semiotika

Diolah-oleh : Tendy Y Ramadin. 

Di antara rimba simbol Nusantara, harimau selalu menjadi metafora keberanian. Ia hadir sebagai citra kekuasaan, penjaga batas, makhluk yang tidak tunduk. Namun ketika sebuah gerakan rakyat hendak memilih lambang, pertanyaannya bukan sekadar: harimau mana yang paling kuat? Melainkan: harimau mana yang paling jujur terhadap sejarah kita?

Harimau Jawa bukan lagi penghuni hutan. Ia telah tiada. Punah. Hilang dari lanskap biologis Jawa. Tetapi justru dalam ketiadaan itulah ia memperoleh daya simbolik yang jauh lebih radikal dibanding Harimau Sumatra yang masih hidup dan dapat difoto, dikonservasi, atau dijadikan ikon kampanye lingkungan.

Harimau Sumatra adalah simbol perlawanan yang masih eksis—ia mewakili daya tahan. Tetapi Harimau Jawa mewakili sesuatu yang lebih getir: luka! 

1. Simbol yang Tidak Aman

Gerakan rakyat yang sejati tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari pengalaman kehilangan: kehilangan tanah, kehilangan ruang hidup, kehilangan suara politik, kehilangan martabat.
Harimau Jawa adalah metafora dari kehilangan kolektif itu.

Ia punah bukan karena kelemahan alaminya, tetapi karena struktur kuasa: ekspansi agraria kolonial, perburuan, pergeseran tata ruang, dan modernisasi yang menganggap hutan sebagai komoditas. Ia adalah korban dari proyek pembangunan yang tidak pernah bertanya siapa yang disingkirkan.

Dengan menjadikannya simbol, gerakan rakyat tidak memilih citra yang gagah, melainkan memilih kesaksian sejarah.

2. Yang Hilang Lebih Menggugat daripada yang Ada

Secara semiotik, sesuatu yang hilang sering kali lebih mengganggu daripada yang hadir. Yang hadir dapat dirayakan; yang hilang menghantui.

Harimau Sumatra masih dapat menjadi ikon konservasi—ia bisa masuk poster, kampanye, bahkan logo institusi tanpa mengguncang struktur sosial. Ia tetap berada dalam narasi “penyelamatan.”

Harimau Jawa tidak bisa diselamatkan. Ia memaksa kita bertanya:
Mengapa ia punah?
Siapa yang diuntungkan dari hilangnya?

Apakah kita sedang mengulang pola yang sama terhadap rakyat kecil hari ini?
Di sini simbol berubah menjadi kritik.

3. Dari Kosmologi ke Politik

Dalam kosmologi Jawa, harimau bukan sekadar satwa. Ia kerap muncul dalam babad, dalam mitologi penjaga rimba, bahkan dalam relasi mistis antara penguasa dan alam. Ia menandai batas antara yang sakral dan yang profan.

Ketika Harimau Jawa hilang, yang retak bukan hanya rantai ekologi, tetapi juga relasi kosmologis antara manusia dan tanahnya.

Gerakan rakyat yang memakai simbol Harimau Jawa berarti menyatakan bahwa perjuangan bukan semata ekonomi atau politik elektoral—melainkan juga pemulihan relasi sakral antara manusia dan ruang hidupnya.

4. Simbol yang Mengandung Rasa Malu

Ada dimensi etis di sini. Menggunakan Harimau Jawa sebagai simbol berarti mengakui bahwa kita—sebagai bangsa—pernah gagal menjaga yang seharusnya kita lindungi.

Simbol ini tidak menyanjung diri. Ia membawa rasa malu ekologis.

Dan rasa malu yang jujur sering kali menjadi titik awal kesadaran politik yang lebih dewasa.

5. Manifesto yang Lebih Dalam

Jika Harimau Sumatra melambangkan kekuatan yang masih bertahan, maka Harimau Jawa melambangkan peringatan:
Jangan ulangi kepunahan—baik terhadap alam, maupun terhadap suara rakyat.

Gerakan rakyat yang memilih Harimau Jawa tidak sedang mengangkat citra kegagahan, melainkan mengangkat memori. Ia menjadikan sejarah sebagai bahan bakar moral.

Simbol ini menantang, karena ia tidak mudah dipeluk. Ia tidak menawarkan heroisme sederhana. Ia menawarkan refleksi, kritik, dan keberanian untuk melihat luka sendiri.

Sanwacana

Dalam dunia yang gemar memilih simbol yang aman dan estetis, Harimau Jawa adalah pilihan yang tidak nyaman. Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Ia mengajarkan bahwa perjuangan rakyat bukan hanya tentang menjadi kuat seperti harimau—
melainkan tentang memastikan tidak ada lagi yang hilang karena keserakahan kuasa.
Dan mungkin, justru dari simbol yang telah punah itulah, kesadaran baru dapat lahir.

Bandung Barat, 14 Pebruari 2026