
Yosinta Christie Setiabudi, S.T.P., M.Sc., Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra Surabaya
Setiap tahun, Hari Gizi Nasional diperingati pada tanggal 25 Januari. Dua hal yang disoroti pada peringatan ini adalah pemenuhan gizi seimbang dan sumber daya manusia yang unggul, merujuk pada visi Indonesia Emas 2045. Akan tetapi, mungkinkah kedua hal ini diraih jika berkaca pada ancaman diabetes dan hipertensi yang semakin menyerang usia muda?
Hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi di Indonesia berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Diabetes mendapat perhatian khusus karena prevalensinya meningkat menjadi 11,7% dibandingkan tahun 2018 sebesar 10,8% berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Baik hipertensi maupun diabetes lebih banyak menyerang orang yang mengalami obesitas sentral, yaitu orang dengan akumulasi lemak berlebih di daerah perut. Obesitas sendiri disebabkan karena ketidakseimbangan kalori yang masuk dan keluar, khususnya akibat konsumsi berlebihan makanan yang tinggi gula dan lemak tetapi tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang mencukupi. Sementara itu, prevalensi obesitas nasional di Indonesia pada penduduk usia di atas 18 tahun mengalami peningkatan menjadi 23,4% dari 21,8% di tahun 2018.
Kenyataan ini menjadi ancaman serius bagi realisasi cita-cita sumber daya manusia yang unggul, karena bonus demografi bisa menjadi beban demografi akibat banyaknya anak muda yang membutuhkan layanan kesehatan. Salah satu pemandangan yang banyak ditemui di rumah sakit belakangan ini adalah panjangnya antrean cuci darah yang tidak lagi didominasi oleh orang-orang lanjut usia, tetapi juga anak muda di usia produktif. Penyakit ginjal memiliki kaitan erat dengan diabetes, karena gula darah yang tinggi secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat merusak kemampuan ginjal untuk menyaring darah. Kondisi hipertensi memperburuk keadaan ini, sehingga pada akhirnya mengakibatkan gagal ginjal. Belum lagi ditambah dengan bayang-bayang penyakit lainnya yang masih berkaitan dengan hipertensi dan diabetes, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan kerusakan saraf. Kenyataan ini menjadi alarm tanda bahaya bagi kita semua, jika dalam beberapa tahun terakhir ini anak-anak muda yang harus secara rutin mendapat penanganan kesehatan sudah meningkat sebanyak ini, bagaimana dengan mimpi pemerintah mewujudkan SDM unggul 20 tahun ke depan?
Akan tetapi, penyakit hipertensi dan diabetes dapat dikendalikan dengan mengendalikan faktor resiko terbesarnya, yaitu obesitas. Oleh karena itu, pemenuhan gizi seimbang menjadi sangat penting untuk diimplementasikan sesegera mungkin. Gizi seimbang bukan hanya tentang kecukupan gizi, tetapi juga tentang jumlah kalori dan jenis zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Jika diperhatikan dengan saksama, antrean anak muda yang cuci darah memiliki paralel dengan antrean anak muda yang ingin membeli jajanan viral di berbagai tempat perbelanjaan. Tengoklah bagaimana tren kopi susu, matcha, dan berbagai jajanan tinggi gula, garam, dan kalori semakin merebak di kalangan anak muda di berbagai kota di Indonesia, tidak hanya di kota besar tapi hingga ke daerah. Tanpa intervensi dan regulasi yang tegas dari pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gizi seimbang, mimpi generasi emas akan semakin jauh dari kenyataan.
Tahun ini, Hari Gizi Nasional mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”. Jika pemerintah tidak hadir menjadi regulator pangan yang beredar di masyarakat, tema ini bisa jadi berakhir menjadi sekedar jargon. Sebuah ironi ketika industri makanan dan minuman kemasan ditekan dengan regulasi dan label gizi, tetapi gerai makanan dan minuman viral justru semakin menjamur tanpa standar makanan dan minuman yang ketat. Selain itu, kesadaran tentang isi piring tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada anak muda yang belum sepenuhnya melek literasi, tetapi negara juga punya peran besar untuk meningkatkan pamor pangan lokal supaya mampu bersaing dengan tren makanan kekinian. Tanpa intervensi yang tegas dan tepat sasaran, piring kita tetap akan membawa kita menuju bangsal rumah sakit.
Info Detak.co | Sabtu, 24 Januari 2026 
