Ketika Kelas Terasa Lebih Panas: Dampak Nyata Perubahan Iklim pada Anak Sekolah

Oleh: Susandijani *)

*) Penulis, Anggota Masyarakat Penulis Iptek (MAPIPTEK)

Suatu siang di ruang kelas sekolah dasar, kipas angin berputar pelan. Anak-anak mulai gelisah. Bukan karena pelajarannya sulit, tetapi karena udara terlalu panas untuk berpikir jernih.

Dan ternyata, sains membuktikan : ini bukan sekadar perasaan.

Panas Memengaruhi Cara Otak Anak Belajar

Studi tahun 2018 di jurnal PLOS Medicine oleh peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menunjukkan bahwa panas menurunkan performa kognitif.

Penelitian berjudul Extreme Heat and Reduced Cognitive Performance tersebut, mengungkap dampak suhu tinggi terhadap memori kerja, kecepatan berpikir, dan fokus. Hasilnya cukup signifikan: reaksi kognitif menjadi lebih lambat hingga 13 persen, dan akurasi perhitungan menurun dalam angka yang sama.

Secara biologis, kondisi ini terjadi karena tubuh bekerja lebih keras untuk mendinginkan diri saat berada di lingkungan panas. Energi dan aliran darah yang seharusnya mendukung kerja otak justru dialihkan untuk menjaga suhu tubuh. Akibatnya, kemampuan berpikir ikut menurun.

Jadi ketika anak terlihat “tidak konsentrasi”, bisa jadi bukan karena malas—melainkan karena tubuhnya sedang berjuang melawan panas.

Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang dipublikasikan di Nature Human Behaviour, yang menunjukkan bahwa suhu tinggi dapat menurunkan proses belajar dalam jangka panjang.

Penelitian global di Nature Climate Change (2020) bahkan menemukan bahwa peningkatan suhu selama tahun ajaran berkorelasi dengan penurunan hasil belajar siswa.

Paparan panas yang berulang bukan hanya berdampak sesaat, tetapi juga dapat menurunkan capaian akademik jangka panjang serta memperlebar kesenjangan pendidikan—terutama di sekolah tanpa fasilitas pendingin.

Artinya, panas bukan hanya masalah hari ini. Panas dapat memengaruhi masa depan pendidikan anak.

Sekolah di Berbagai Negara Sudah Terdampak

Fenomena ini bukan sekadar teori. Ia sudah terjadi di berbagai negara.

Di United States, ribuan sekolah negeri dilaporkan tidak memiliki sistem pendingin yang memadai. Saat gelombang panas terjadi, banyak sekolah terpaksa mempersingkat jam belajar, bahkan ditutup sementara.

Di India, gelombang panas ekstrem memaksa sejumlah wilayah memajukan jam masuk sekolah atau meliburkan siswa. Dalam peristiwa 2024 Indian heat wave, suhu tercatat mencapai 49–50°C—mendekati batas toleransi manusia.

Sementara itu di United Kingdom, ruang kelas yang awalnya dirancang untuk iklim dingin justru berubah menjadi “perangkap panas”.  Saat 2022 United Kingdom heatwave, suhu mencapai 40,3°C—tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut—dan mengganggu proses belajar secara luas.

Anak-anak: Kelompok Paling Rentan

Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak termasuk kelompok paling rentan terhadap panas ekstrem. Sistem pengaturan suhu tubuh mereka belum seefisien orang dewasa, sehingga lebih cepat mengalami dehidrasi dan sering tidak menyadari tanda bahaya panas.

Sejumlah studi dalam jurnal The Lancet Planetary Health (2024) menunjukkan bahwa paparan panas ekstrem meningkatkan risiko kesehatan pada anak, termasuk peningkatan risiko kematian.

Laporan Lancet Countdown juga mencatat bahwa paparan gelombang panas pada anak meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan, dampak tersebut dapat muncul lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa.

Kenapa Fenomena Panas Akan Semakin Sering Terjadi?

Menurut World Meteorological Organization dalam laporan State of the Global Climate (2023–2024), suhu global kini telah meningkat sekitar 1,4°C dibanding era pra-industri, dan tren ini terus berlanjut.

Setiap kenaikan kecil suhu global meningkatkan frekuensi gelombang panas dan memperpanjang durasi panas ekstrem. Bagi negara tropis seperti Indonesia, ini berarti ruang kelas akan semakin sering berada di atas ambang suhu nyaman untuk belajar (sekitar 30°C).

Indonesia Perlu Bersiap

Dalam konteks Indonesia, ancaman ini bukan lagi sekadar proyeksi global. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, dimulai sekitar April hingga Juni, dengan puncak pada Agustus. Durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang di lebih dari separuh wilayah Indonesia.

Kondisi ini berpotensi diperkuat oleh fenomena El Niño yang dapat muncul pada paruh kedua tahun, yang dikenal meningkatkan suhu dan menekan curah hujan di kawasan Asia Tenggara.

Meski suhu di Indonesia tidak selalu setinggi negara lain, kombinasi suhu dan kelembapan membuat panas terasa jauh lebih berat bagi tubuh. Dalam konsep Heat Index, suhu 32–34°C dapat dirasakan mendekati 40°C atau lebih. Yang mengkhawatirkan, kondisi ini berlangsung berbulan-bulan.

Artinya, anak-anak sekolah berpotensi mengalami paparan panas kronis di ruang kelas yang belum tentu dirancang untuk kondisi tersebut.

Solusi Nyaman di Tengah Panas

Masalah ini tidak bisa dianggap sepele, tetapi bukan tanpa solusi. Sejumlah rekomendasi dari WHO, UNICEF, dan World Bank menekankan pentingnya adaptasi sekolah terhadap perubahan iklim.

Pertama, adaptasi lingkungan sekolah, seperti ventilasi silang, desain ruang terbuka, penanaman pohon peneduh, serta penggunaan material bangunan yang tidak menyerap panas.

Kedua, penyesuaian jadwal belajar, misalnya memulai kegiatan lebih pagi dan menghindari aktivitas fisik di siang hari.

Ketiga, edukasi kepada anak tentang pentingnya hidrasi dan mengenali tanda-tanda tubuh mengalami panas berlebih.

Keempat, peran guru yang lebih adaptif—memberi jeda istirahat dan memahami bahwa performa belajar anak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

Perubahan iklim sering terasa jauh. Namun sesungguhnya, ia sudah hadir di ruang kelas. Di meja-meja kecil tempat anak belajar, di kepala mereka yang berusaha memahami pelajaran—sambil melawan panas yang tidak mereka pilih.

Jika kita ingin menjaga masa depan, maka langkah paling sederhana yang bisa dimulai hari ini adalah memastikan: anak-anak dapat belajar tanpa harus melawan suhu yang semakin tidak bersahabat.