
Oleh: Nayla Davina Sari
Mahasiswa Program Studi Sarjana Matematika, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Di era modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat, generasi muda Indonesia menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat. Kemajuan digital membawa banyak manfaat, namun juga menciptakan tantangan moral yang semakin kompleks.
Berbagai laporan menunjukkan adanya penurunan nilai moral pada kalangan remaja, seperti menurunnya sopan santun, lemahnya rasa tanggung jawab, dan meningkatnya perilaku konsumtif. Kondisi ini menjadi perhatian bagi dunia pendidikan bahwa integritas merupakan nilai penting yang harus diperkuat sejak dini melalui pendidikan karakter.
Salah satu indikator menurunnya integritas di kalangan remaja adalah meningkatnya kasus bullying di sekolah. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga berkembang menjadi cyber bullying yang dilakukan melalui media sosial, pesan singkat, maupun platform digital lainnya.
Perundungan verbal, penyebaran konten negatif, hingga ancaman daring memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental dan perkembangan sosial siswa. Maraknya kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan moral dalam penggunaan teknologi masih belum optimal, sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan dunia digital saat ini.
Selain bullying, pengaruh media sosial juga memainkan peran besar dalam membentuk perilaku remaja. Paparan konten yang mempromosikan kekerasan, gaya hidup instan, atau perilaku tidak etis dapat memengaruhi pola pikir dan tindakan remaja.
Rendahnya literasi digital membuat sebagian remaja kesulitan membedakan informasi positif dan negatif. Hal ini kemudian dapat memicu perilaku seperti mengikuti tren berisiko, terlibat dalam penyebaran hoaks, hingga melakukan tindakan tidak jujur dalam proses belajar. Situasi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan pembinaan karakter yang kuat dan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter, terutama terkait nilai integritas. Kurangnya kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial pada generasi muda dapat berdampak jangka panjang bagi pembangunan bangsa.
Integritas diperlukan tidak hanya dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa integritas, berbagai potensi generasi muda akan sulit berkembang secara optimal. Oleh karena itu, pembentukan karakter harus menjadi prioritas dalam sistem pendidikan nasional, bukan sekadar pelengkap.
Pendidikan karakter meliputi pembentukan nilai moral yang mencakup kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, kerja sama, serta kemampuan bersikap adil. Nilai integritas sendiri dipahami sebagai keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan sesuai prinsip moral.
Dengan kata lain, integritas menekankan konsistensi seseorang dalam melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada pengawasan. Dalam konteks pendidikan, nilai ini menjadi dasar bagi terciptanya lingkungan belajar yang sehat, aman, dan produktif.
Untuk memperkuat pendidikan karakter, sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya positif. Keteladanan guru menjadi salah satu strategi paling efektif, karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari. Guru yang menerapkan disiplin, kejujuran, dan kepedulian akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai tersebut kepada siswa.
Selain itu, sekolah dapat menerapkan program pembiasaan seperti salam, senyum, dan sapa, kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung kerja sama, serta aturan sekolah yang jelas dan konsisten. Lingkungan sekolah yang mendukung akan membantu siswa memahami nilai moral secara praktis, bukan hanya teoritis.
Keluarga juga memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter. Sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak, keluarga menentukan dasar perilaku dan nilai moral remaja. Nilai seperti menghargai orang lain, bertanggung jawab atas tugas, dan berkata jujur biasanya ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari di rumah.
Konsistensi orang tua dalam memberikan contoh baik menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter dalam lingkup keluarga. Ketika sekolah dan keluarga sejalan dalam menanamkan nilai moral, proses pembentukan karakter anak akan berjalan lebih efektif.
Selain sekolah dan keluarga, masyarakat juga berperan dalam membentuk generasi berintegritas. Lingkungan sosial yang aman, bebas dari kekerasan, dan mendukung aktivitas positif akan membantu remaja mengembangkan perilaku baik.
Komunitas, organisasi pemuda, dan lembaga sosial dapat berkolaborasi dalam menciptakan program yang mendukung pembinaan karakter, seperti kegiatan sosial, edukasi literasi digital, hingga pelatihan kepemimpinan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter memiliki dampak positif terhadap perkembangan remaja. Pendidikan karakter yang kuat dapat mengurangi kenakalan remaja, mencegah tindakan menyimpang, serta meningkatkan kualitas hubungan sosial.
Selain itu, remaja yang memiliki integritas cenderung mampu mengontrol diri, membuat keputusan bijak, serta memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Dalam jangka panjang, nilai integritas akan membantu mereka menjalani kehidupan dengan lebih bertanggung jawab dan produktif.
Di tengah derasnya arus informasi dan modernisasi, integritas menjadi pondasi penting agar generasi muda tidak mudah terbawa pengaruh negatif. Penguatan pendidikan karakter harus terus dilakukan secara konsisten, terarah, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, Indonesia dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga kuat dalam nilai moral. Generasi dengan integritas tinggi menjadi kunci bagi terwujudnya bangsa yang lebih maju, bermartabat, dan berdaya saing.
Info Detak.co | Kamis, 08 Januari 2026 
