
Oleh: Mufti Makaarim
(Akademisi, pengamat sosial-politik & pertahanan-keamanan)
Kekuatan maritim Indonesia sedang memasuki fase baru. Akuisisi dua kapal PPA dari Italia, pembangunan Frigate Merah Putih, rencana dua frigat I-Class dari Turki, hingga hadirnya kapal induk Giuseppe Garibaldi menunjukkan bahwa modernisasi TNI Angkatan Laut mulai bergerak menuju armada yang lebih besar dan berkemampuan jelajah jauh. Namun, kekuatan laut modern tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah kapal permukaan. Salah satu medan paling menentukan justru berada di bawah permukaan laut.
Karena itu, rencana Indonesia memperkuat armada kapal selam melalui dua Scorpène Evolved Full LiB menjadi penting. Kapal tersebut akan dibangun bersama PT PAL di Indonesia dengan transfer teknologi dari Naval Group. Kontraknya telah efektif dan memasuki tahapan persiapan produksi. Tetapi kapal selam tanpa kemampuan mendeteksi kapal selam lawan adalah kekuatan yang belum lengkap.
Membangun “mata dan telinga” di bawah laut
TNI AL sendiri telah menyampaikan kebutuhan terhadap sistem deteksi bawah air untuk menghadapi ancaman kapal selam yang melintasi wilayah perairan kita. Bahkan terdapat gagasan membangun sistem yang memiliki fungsi menyerupai SOSUS, yakni jaringan sensor bawah laut yang mampu mendeteksi dan melacak aktivitas kapal selam dalam wilayah tertentu.
Sistem tersebut seharusnya tidak berdiri sendiri. Indonesia membutuhkan ekosistem yang terdiri atas fixed passive sonar, towed array, dipping sonar, pesawat patroli maritim, unmanned underwater vehicle (UUV), data oseanografi, serta sistem komando dan pengendalian.
Dengan kata lain, yang dibangun bukan sekadar kapal selam, tetapi undersea warfare ecosystem.
Mengapa kebutuhan ini semakin penting?
Indonesia berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik serta memiliki sejumlah jalur strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. Jalur-jalur tersebut memiliki arti penting bagi perdagangan, energi dan pergerakan militer.
Perkembangan teknologi bawah laut juga semakin cepat. Tiongkok, misalnya, tengah mengembangkan pemetaan dasar laut secara luas. Informasi mengenai kedalaman, temperatur, salinitas dan arus laut memiliki nilai strategis karena sangat menentukan kemampuan operasi kapal selam dan perang antikapal selam.
Artinya, kompetisi maritim Indo-Pasifik semakin bergeser dari sekadar siapa memiliki kapal lebih banyak, menuju siapa yang paling mampu melihat, mendengar dan memahami laut.
Pelajaran dari kawasan
Perkembangan negara-negara sekitar memperlihatkan arah yang sama. Australia memperkuat kemampuan frigatnya melalui akuisisi frigat Mogami Jepang, sementara Malaysia menghidupkan kembali program Littoral Combat Ship-nya. Indonesia sendiri memperkuat armada permukaan melalui PPA Italia, Frigate Merah Putih dan frigat Turki. Namun, modernisasi permukaan tersebut perlu dilengkapi kemampuan bawah laut.
Terlebih lagi, kawasan Laut Cina Selatan semakin memperlihatkan karakter grey-zone competition. Filipina tidak hanya memperkuat Angkatan Laut, tetapi juga coast guard karena sebagian besar tekanan terjadi di bawah ambang konflik bersenjata terbuka.
Bagi Indonesia, pola ini relevan terutama di sekitar Natuna. Coast guard, TNI AL, TNI AU dan sistem intelijen maritim harus bekerja dalam satu arsitektur kesadaran domain maritim.
Dari fleet modernization menuju undersea architecture
Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, Indonesia perlu mempertahankan otonomi strategisnya. Kapal selam dapat menjadi instrumen penting untuk deterrence dan sea denial, sementara sistem deteksi bawah laut memberikan kemampuan untuk mengetahui apa yang bergerak di bawah permukaan.
Karena itu, pertanyaan strategis Indonesia bukan hanya berapa kapal selam yang akan dibeli. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, seberapa jauh Indonesia mampu membangun kemampuan untuk menemukan, melacak, memahami dan jika diperlukan menghadapi kekuatan bawah laut lawan?
Dari perspektif tersebut, dua Scorpène seharusnya dipandang sebagai awal pembangunan arsitektur kekuatan bawah laut Indonesia, bukan sebagai tujuan akhir.
Indonesia tidak sekedar membutuhkan kapal selam, tetapi juga membutuhkan sensor, data, pesawat patroli maritim, UUV, kemampuan antikapal selam, infrastruktur bawah laut, serta jaringan komando dan kendali.
Sebab dalam kompetisi maritim abad ke-21, keunggulan bukan hanya berada pada kapal yang terlihat di permukaan.
Keunggulan strategis justru dapat ditentukan oleh kemampuan melihat sesuatu yang tidak terlihat (di bawah laut).**
Info Detak.co | Minggu, 20 September 2026 
