Menu MBG Belajar dari Negara Tetangga

Oleh: Susandijani *)

*) Penulis, Anggota Masyarakat Penulis Iptek (MAPIPTEK)

Makan Bergizi Gratis atau MBG sebenarnya bukan hal baru. Banyak negara telah menjalankannya selama puluhan tahun dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Di berbagai negara, program serupa MBG, telah digelar selama bertahun-tahun. Dan makan bergizi di sekolah, itu tidak sekadar memberikan makanan gratis. Tapi dirancang dengan berbagai menu menarik dengan prinsip gizi seimbang, bukan sekadar mengenyangkan.

Di Finlandia, misalnya, yang menggelar program makan di sekolah gratis sejak 1948 ini, dikelola Finnish National Agency for Education.

Menu yang dibagikan pada prinsipnya mengikuti pola diet Nordik yang sehat. Yaitu rendah gula, tinggi serat dan sayur.

Contoh menu: ikan atau ayam, kentang rebus, salad sayur segar, roti gandum, susu atau yogurt.

Di Amerika Serikat, progam makan siangnya disebut National School Lunch Program (NSLP). Program ini dikelola oleh United States Department of Agriculture.

Studi NSLP yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open (2021) mengungkapkan bahwa setelah standar gizi diperbaiki: kualitas makanan sekolah meningkat, konsumsi sayur dan buah pada siswa juga meningkat. Artinya kebijakan menu yang baik bisa mengubah pola makan anak.  Prinsipnya, setiap menu wajib ada buah dan sayur dan membatasi garam serta lemak jenuh

Contoh menu: ayam panggang, nasi atau roti gandum, brokoli atau wortel, buah segar (apel atau pisang), susu rendah lemak

Di Inggris, pada pertengahan 2000-an, negara ini memperbaiki standar makanan sekolah dengan mengurangi makanan olahan, minuman manis, dan makanan tinggi lemak.

Program yang dijalankan UK Department for Education memberikan catatan penting dalam setiap menunya. Yaitu, minimal 1 porsi sayur & buah per hari, wajib ada sumber protein, dan membatasi makanan yang digoreng.

Penelitian program tersebut dipublikasikan di Journal of Public Health (2013). Terbukti bahwa reformasi menu tersebut  berhubungan dengan peningkatan kualitas diet siswa dan peningkatan hasil belajar siswa sekolah dasar.

Contoh menu: Roast chicken (ayam panggang), kentang (roast / mashed), wortel & brokoli, gravy (saus), buah (apel/pir).

Sementara itu di Jepang, program makan sekolah disebut sebagai shokuiku, yaitu pendidikan tentang makanan sehat. Menu dirancang agar seimbang antara karbohidrat, protein, dan sayur.  Program ini didukung oleh Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology of Japan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Public Health Nutrition (2019) menunjukkan bahwa program makan sekolah Jepang, ini  membantu meningkatkan konsumsi sayur dan membentuk kebiasaan makan sehat sejak kecil. Yang unik, siswa juga belajar menghargai makanan dan gizi seimbang.

Contoh menu: nasi, ikan panggang (salmon atau mackerel), sup miso dengan tahu dan sayur, salad sayur, susu.

Hal menarik: anak belajar makan bersama dan menghargai makanan. Siswa sering juga ikut membagikan makanan ke teman sekelas.

Program makanan sekolah nasional juga digelar di Brasil. Yaitu Programa Nacional de Alimentação Escolar. Program makan sekolah yang dikelola Brazilian National Fund for Educational Development, ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Sebagai catatan programnya menyangkut cakupan nasional luas yang terintegrasi dengan sekolah, petani lokal, dan melayani puluhan juta siswa (sekitar 40 juta siswa setiap hari)

Penelitian dalam Global Food Security Journal (2017) menunjukkan bahwa program ini: meningkatkan akses makanan sehat bagi siswa dan mendorong penggunaan produk lokal dari petani.

Program makan sekolah di Brasil ini punya keunikan, minimal 30 persen bahan makanan berasal dari petani lokal.

Contoh menu: nasi, kacang hitam (beans), ayam atau ikan, sayur, buah lokal.

Program makan di sekolah lainnya yang masuk terbesar di dunia ada di India. Yaitu Mid-Day Meal Scheme yang melayani sekitar 100 juta siswa setiap hari dan dikelola langsung Government of India Ministry of Education. Di India, menu makan sekolah sering kali hanya terdiri dari nasi, lentil, dan sayur, tetapi tetap dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein dasar anak.

Hasil penelitian tentang program tersebut, dipublikasikan dalam World Development (2021).  Hasilnya? Meningkatkan kehadiran siswa di sekolah, dan membantu memperbaiki status gizi anak dari keluarga miskin.

Pengalaman berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa program seperti Makan Bergizi Gratis di Indonesia memiliki potensi besar—selama kualitas menu dan pengelolaannya benar-benar diperhatikan.

Hal yang bisa dipetik untuk program MBG dari berbagai negara tersebut, ada lima prinsip umum.  Pertama, menu selalu seimbang yaitu karbohidrat + protein + sayur + buah.

Kedua, protein hampir selalu ada. Yaitu ikan, ayam, telur, atau kacang. Ketiga, buah atau sayur wajib hadir di setiap makan. Keempat, banyak negara memakai produk lokal. Kelima, program makan di sekolah juga menjadi alat pendidikan gizi.

Menu makan ideal di sekolah sebenarnya tidak harus mahal atau rumit. Yang penting adalah keseimbangan antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Contoh menu sederhana yang sering direkomendasikan ahli gizi antara lain:

nasi atau sumber karbohidrat lain, lauk berprotein seperti ayam, telur, ikan, atau tempe. Kemudian sayuran seperti bayam, wortel, atau buncis. Sebagai penutup ada buah segar.

Contoh Menu: nasi, ayam panggang, tumis wortel dan buncis, jeruk atau pisang.

Menu seperti ini relatif sederhana, tetapi sudah memenuhi prinsip gizi seimbang.

Indonesia sebenarnya memiliki banyak bahan pangan lokal yang bergizi dan terjangkau. Tempe, misalnya, merupakan sumber protein nabati yang kaya protein, serat, dan vitamin B. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science and Nutrition (2020) bahkan menunjukkan bahwa tempe memiliki kandungan antioksidan dan senyawa bioaktif yang baik untuk kesehatan.

Artinya, bahan makanan lokal sebenarnya bisa menjadi bagian penting dalam menu makan sekolah yang sehat.

Tantangan di Lapangan

Meski konsepnya terlihat sederhana, menjalankan program makan di sekolah tidak selalu mudah.

Salah satu tantangan adalah pengadaan bahan makanan yang berkualitas. Buah yang disajikan, misalnya, harus dalam kondisi segar dan layak konsumsi. Pemilihan buah tidak seharusnya hanya mempertimbangkan harga murah, tetapi juga kualitas dan keamanan pangan.

Selain itu, distribusi makanan juga perlu diperhatikan agar makanan tetap higienis dan tidak rusak sebelum dikonsumsi anak.

Tantangan lainnya adalah memastikan bahwa anak benar-benar mau memakan makanan yang disediakan. Tidak sedikit anak yang masih memilih-milih makanan, terutama ketika berhadapan dengan sayuran.

Karena itu, beberapa negara memadukan program makan sekolah dengan edukasi gizi, sehingga anak tidak hanya makan, tetapi juga belajar mengenal makanan sehat. (*)