Mimbar Kristen: Minggu Adven 4, Jadilah Padaku menurut Perkataan-Mu

Bacaan 1: 2 Samuel 7 : 1 – 16

Bacaan 2: Roma 16 : 25 – 27

Bacaan 3: Lukas 1 : 26 – 38

2 Samuel 7 : 1 – 16

Perikop ini menceritakan tentang nubuatan nabi Natan tentang Daud dan keluarganya serta keturunannya. Nubuat ini merupakan piagam perjanjian Tuhan dengan Daud serta keturunannya. Nubuat ini tidak hanya menyangkut pengganti pertama raja Daud, yaitu Salomo (2 Sam. 7:13; 1 Taw. 17:11-14; 22:10; 28:6, dan 1 Raj. 5:5; 8:16-19). Sebaliknya, dalam nubuat yang setelah terang dan setelah gelap itu terungkap pengharapan bahwa akan datang salah seorang keturunan Daud yang istimewa, yang akan berkenan di hati Tuhan. Nubuat Natan ini merupakan mata rantai pertama dalam rangkaian nubuat mengenai Mesias, anak Daud, Yesaya 7:14; Mikha 5:1; Hagai 2:23; Kisah Para Rasul 2:30 yang mengetrapkan nubuat itu pada Yesus Kristus.

Perikop ini menjadi bagian yang penting dari kitab 2 Samuel. Dua bagian lain yang juga sangat penting adalah kelahiran Salomo (yang merupakan bagian dari narasi kejatuhan Daud dalam dosa dengan Batsyeba), dan penunjukkan lokasi Bait Suci di bagian akhir Kitab ini. Semuanya menjalin menjadi satu tulang punggung yang kokoh untuk Kitab ini. Tuhan berjanji akan memberikan keturunan bagi Daud yang akan membangun bait bagi Tuhan. Tuhan memberikan keturunan itu, yaitu Salomo, yang adalah gambaran dari Kristus, Anak Daud yang sejati. Terakhir adalah Tuhan memberikan lokasi bait, dimana Bait Suci itu sendiri akan digenapi di dalam pemanggilan gereja yang adalah tubuh Kristus, Bait Allah yang sejati.

Ayat 2 menyatakan keinginan Daud untuk memberikan tempat yang megah bagi Tabut Perjanjian. Daud mempunyai rumah yang bagus, tetapi tabut hanya berdiam di dalam kemah. Jawaban Tuhan mengoreksi konsep Daud sekaligus menubuatkan hal yang akan Tuhan kerjakan. Ayat 5-10 menyatakan bahwa Allah adalah transenden. Dia melampaui segala ciptaan. Dia lebih agung dan lebih besar dari seluruh ciptaan. Apakah mungkin ada rumah yang dapat menampung Dia? Tetapi dalam bagian ini juga Allah menyatakan bahwa Dia adalah imanen. Dia rela menyatakan kehadiran-Nya bersama sama dengan bangsa Israel. Walaupun Dia Mahahadir, tetapi kehadiran-Nya secara intim dinyatakan di tengah-tengah Israel. Maka pada waktu Israel berdiam di dalam kemah, simbol kehadiran Allah, yaitu tabut juga ditempatkan di dalam kemah. Allah menyertai bangsa Israel dengan rela berdiam bersama-sama dengan mereka.

Ayat 11-16 menyatakan tentang janji Tuhan kepada Daud. Daud ingin membangun rumah bagi Tuhan untuk menampung Tabut Perjanjian, lambang kehadiran Tuhan. Tetapi Tuhan mengatakan bahwa Dialah yang akan membangun keturunan bagi Daud. Kata ‘rumah’ dalam bahasa Ibrani, ‘bayit’, bisa berarti rumah atau keluarga. Dengan pengertian ini seolah olah Tuhan mengatakan kepada Daud, bukan Daud yang akan menegakkan rumah bagi Tuhan, tetapi Tuhanlah yang akan menegakkan rumah/keluarga Daud. Dan dari keluarga Daud itulah Tuhan akan memberikan keturunan yang akan membangun bait bagi Allah. Ini adalah janji yang sangat luas. Janji bagi Israel, janji bagi Daud, janji bagi takhta Kerajaan Allah di dunia ini, dan janji bagi seluruh umat Tuhan sepanjang masa. Tuhan berjanji bahwa Dialah yang akan menegakkan tempat bagi umat-Nya untuk berdiam dengan tenteram dan tidak diganggu musuh-musuhnya (Ay. 10). Dia jugalah yang akan menentukan keturunan Daud akan terus bertakhta hingga Anak Daud (yang digenapi di dalam Kristus) datang dan mengklaim takhta Daud. Takhta inilah yang akan Tuhan pelihara bagi Daud supaya akan ada bait bagi Allah sekaligus takhta kerajaan bagi Allah. Bait bagi Allah akan didirikan oleh keturunan Daud. Takhta kerajaan bagi Allah juga akan didirikan melalui keturunan Daud. Jadi, baik adanya bait, maupun adanya raja bagi umat Tuhan, semua bergantung pada kesetiaan Allah menepati janji-Nya kepada Daud. Jika Allah gagal menepati janji-Nya kepada Daud, maka umat Allah tidak akan mempunyai tempat pusat peribadatan dan mereka juga tidak akan mempunyai raja yang bertakhta menggembalakan mereka.

Roma 16 : 25 – 27

Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Roma, namun dia menyapa orang-orang di Roma melalui surat-suratnya. Dalam perikop ini ada kata ‘rahasia’ yang memiliki maksud tunggal bagi penebusan manusia yang bahkan mendahului kejatuhan mereka (Kej. 3). Isyarat dari rencana ini diungkap dalam Perjanjian Lama (PL) dan bagian univesal dalam Nabi-nabi. Namun demikian agenda lengkapnya tidaklah jelas (1 Kor. 2:6-8). Dengan kedatangan Yesus dan Roh Kudus hal ini menjadi semakin nyata. Paulus menggunakan istilah ‘rahasia’ untuk menjelaskan rencana penebusan total ini. Namun demikian, dia menggunakannya dalam beberapa pengertian yang berbeda. Dalam Roma 16:25-27 pengertian rahasia dipahami sebagai Injil diberitakan pada bangsa-bangsa, yang semuanya dicakup dalam Kristus dan melalui Kristus.

Mayoritas orang Roma adalah non Yahudi. Sehingga sangat perlu diberitakan kepada mereka bahwa Allah menguatkan mereka melalui Injil dan pemberitaan Kristus. Intinya adalah Injil. Injil tersebut berkaitan dengan pemberitaan Kristus. Allah menguatkan umat-Nya melalui Injil dengan membukakan kepada umat-Nya tentang jalan keluar dari dosa, iblis, dan maut, yaitu melalui Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus yang diutus Bapa untuk menebus dosa umat-Nya. Dengan kata lain, Injil berkaitan erat dengan pribadi dan karya Kristus. Injil yang tidak memberitakan Kristus adalah ‘injil’ palsu.

Lukas 1 : 26 – 38

Awal kisah dari pemberitaan ini menunjukkan keterangan waktu dalam bulan yang keenam, Allah menyuruh malaikat Gabriel. Para ahli tafsir menunjukkan keterangan waktu ini dengan bulan keenam Elisabet mengandung Yohanes. Disini, hendak dijelaskan bahwa kisah tentang kunjungan malaikat kepada Maria merupakan lanjutan dari penampakannya kepada Zakharia (Luk. 1:5-25). Rencana Allah itu berlangsung secara berkelanjutan dengan tujuan pada keselamatan. Rupanya, Allah tidak turun langsung berhadapan dengan Maria, melainkan Dia mengutus malaikat Gabriel untuk menyampaikan rencana Allah tersebut.

Selain keterangan waktu, ditunjukkan pula keterangan tempat yakni sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret. Kota Nazaret dianggap tidak terlalu penting karena tidak pernah disebutkan dalam Perjanjian Lama. Kota itu terletak di sebelah utara Palestina (Yoh. 1:40). Tempat tinggal kediaman penduduk di kota tersebut hanya berupa goa-goa di lereng bukit dengan pintu masuk terbuat dari papan. Hal ini diperlihatkan oleh Lukas dengan maksud ingin memberi perhatian terhadap tempat yang kecil, miskin, dan tidak diperhatikan.

Ayat 27 mulai memperkenalkan tokoh utama dalam kisah ini, yakni Maria. Maria adalah seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf, yang merupakan keturunan Daud. Menarik dalam cerita ini, Lukas lebih menonjolkan pribadi Maria yang perempuan, dibandingkan pribadi Yusuf sebagai yang laki- laki. Padahal tradisi Yahudi sendiri merupakan tradisi patriakal, dimana sosok laki-laki lebih diutamakan. Pandangan ini semakin mempertegas fokus ajaran Lukas sendiri yang menekankan perhatian kepada sosok perempuan yang juga tergolong dalam kaum miskin dan papa.

Malaikat Gabriel merupakan gambaran kehadiran Allah kepada Maria, selaku manusia. Jika dibandingkan kisah Zakharia, ada perbedaan tempat yang dikunjungi malaikat. Malaikat Gabriel mengunjungi Zakharia di Bait Allah (Luk. 1:19), sedangkan Maria dikunjungi di rumahnya sendiri. Perbedaan tempat itu menunjukkan bahwa Allah dapat hadir dimana saja, Bait Allah merupakan tempat yang sunyi dan tenang, dimana setiap orang Yahudi memanjatkan doa di sana. Sedangkan rumah Maria pun menggambarkan ketenangan dan kesunyian di dalamnya, karena berada di daerah tepencil dan tertutup. Suasana itulah yang memberikan gambaran bagaimana Allah hadir. Bahkan rumah menunjukkan gambaran bahwa Allah hadir dalam kekhidmatan dan kesederhanaan.

Disini Lukas tidak bermaksud mengarahkan perhatian kita pada penampakan malaikat, melainkan pada pesan yang disampaikan kepada Maria. Salam awal malaikat Gabriel kepada Maria itu mengandung misi tersembunyi: Membawakan kabar yang menggembirakan, memberikan kedamaian kepada Maria, mengagungkan Maria sebagai orang terpilih, dan mengaruniakan rahmat Allah. Karena maksud kehadiran sosok malaikat ini belum dipahami, reaksi Maria pertama-tama adalah terkejut, bahkan dia tidak menjawab apa- apa kepada malaikat yang sedang menemuinya itu, karena ia hanya bertanya dalam hatinya, apakah arti salam itu. Reaksi itu menjadi momen yang menggugah karena reaksi ini menjadi awal mula konflik yang dialami oleh tokoh utama, yakni Maria. Maria tidak menolak pesan malaikat Gabriel, namun tetap tenang merenungkan arti pesannya melalui pengalaman imannya.

Akhir kisah ini sangatlah sederhana, yakni malaikat meninggalkan Maria setelah menyelesaikan tugasnya untuk menyampaikan kehendak Allah kepada Maria. Malaikat tidak perlu mempertanyakan perasaan yang muncul pada Maria, apakah takut? Bingung? Atau senang? Malaikat juga tidak menjelaskan bagaimana Maria harus menjalani hidupnya setelah mendapat kabar tersebut. Kepergian malaikat itu menunjukkan bahwa Maria akhirnya perlu mengatur dan menanggung konsekuensi yang atas jawaban akan imannya itu sesuai dengan cara hidupnya. Namun, penyertaan Allah tidak akan pernah berhenti dalam perjalanan hidupnya.

Benang Merah Tiga Bacaan:

Maria adalah sosok pribadi yang rendah hati dan taat. Maria memahami dan menyadari bahwa pusat hidupnya bukanlah dirinya sendiri namun Tuhan saja. Dia mengaku sebagai seorang hamba Tuhan yang harus menyerahkan diri dan seluruh hidupnya demi terwujudnya karya Tuhan. Hal itu tampak dengan kalimat yang disampaikan oleh Maria, “… sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu …”. Demikian juga disaksikan oleh bacaan yang pertama, bukan Daud yang akan menegakkan rumah bagi Tuhan, tetapi Tuhanlah yang akan menegakkan rumah/keluarga Daud. Dan dari keluarga Daud itulah Tuhan akan memberikan keturunan yang akan membangun bait bagi Allah. Lagi-lagi, Tuhanlah yang berkehendak sedangkan manusia harus taat kepada kehendak-Nya. Karena hanya Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus segala kemuliaan sampai selama- lamanya.

Pendahuluan

Adakah di antara kita yang tahu, indra apakah yang pertama kali terbentuk dalam rahim ibu? Indra yang pertama kali terbentuk adalah indra pendengaran. Indra pendengaran mulai terbentuk saat janin berusia 4-5 minggu. Kemudian pada usia janin 18-20 minggu sistem pendengaran janin benar-benar utuh. Di usia ini janin sudah mulai mendengar suara dari dalam rahim. Sehingga tidak keliru kalau kata mendengar dalam Alkitab bisa kita temukan dalam 581 ayat. Rupanya kata mendengar adalah hal penting untuk diperhatikan oleh manusia sebagai ciptaan Allah. Ketika Allah menempatkan alat pendengar sebagai pembentukan yang pertama dalam rahim ibu, ini menunjukkan bahwa alat pendengar ini memiliki fungsi dan memiliki pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Melalui alat pendengar yang telah tercipta, Allah menginginkan manusia untuk mengikuti, mengindahkan, dan menurut kepada-Nya. Tuhan memiliki otoritas dalam hidup kita, karena kita adalah milik-Nya. Yang menjadi pertanyaannya, apakah hidup kita sepenuhnya sudah seturut dengan kehendak Tuhan? Atau malah sebaliknya?

Isi

Bacaan kita hari ini berkisah tentang kunjungan malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, yang bernama Nazaret, kepada Maria. Maria adalah seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Tujuan kunjungan malaikat Gabriel adalah untuk menyampaikan sebuah berita besar tentang keterpilihan Maria menjadi perempuan yang akan melahirkan seorang anak laki laki, yang namanya telah ditentukan, yakni Yesus. Anak ini akan menjadi besar dan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi, yang kepada-Nya akan dikaruniakan takhta Daud dan Ia akan menjadi raja atas keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Kunjungan itu didahului dengan salam malaikat Gabriel, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Mendengarkan salam itu membuat Maria terkejut serta bertanya dalam hatinya, apa arti salam itu. Dari sini kita bisa melihat bahwa Maria tidak terburu-buru merespon dengan kata- kata atau dengan mulutnya, namun dia fokus mendengarkan dan bertanya dalam hatinya. Tetapi kemudian Maria ditenangkan dengan ucapan malaikat Gabriel, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah”. Tetapi walaupun sudah ditenangkan dengan kalimat “jangan takut” dan malaikat Gabriel berusaha menjelaskan, namun tetap membuat Maria kebingungan dengan menjawab, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”.

Apa yang dikatakan oleh Maria sangat bisa dipahami karena dia masih bertunangan dengan Yusuf. Hubungan pertunangan belum melayakkan pasangan melakukan hubungan suami isteri secara seksual. Karena itu, hukum Yahudi pun mengatur bahwa seorang perempuan yang bertunangan lalu kedapatan melakukan tindakan asusila, akan dilempari dengan batu sampai mati. Dan yang menarik untuk kita perhatikan bersama, ketika Maria terus mendengarkan malaikat Gabriel berbicara (Ay. 35-37), apa yang terjadi kemudian? Tidak ada lagi tanda tanya, tidak ada lagi keraguan. Dengan menyerah secara rendah hati Maria mempercayai pesan yang didengarnya itu, katanya “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu itu?”. Maria mendengarkan pesan yang disampaikan kepadanya dengan baik dan bersedia melakukan dengan sepenuh hati seturut kehendak-Nya. Teladan yang ditunjukkan oleh Maria adalah sebuah ketaatan yang menakjubkan.

Ucapan yang disampaikan Maria menunjukkan dua hal: Pertama, Maria menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan. Maria sadar bahwa dirinya hanyalah hamba Tuhan. Tuhan berhak memperlakukan dirinya sesuai kehendak-Nya. Maria tahu Allah memiliki kedaulatan melakukan apa saja terhadap siapa saja, termasuk terhadap dirinya. Karena itu, Maria siap menjalani perintah Tuhan apapun konsekuensinya. Walau sesungguhnya Maria sendiri belum mengerti apa yang akan terjadi nanti, tetapi Maria tahu Tuhan mempunyai rencana yang besar dan rencana Tuhan tidak pernah gagal ataupun salah. Walaupun Maria juga tahu tentang konsekuensi hukum dan tradisi di masyarakatnya sungguh mengerikan. Kalau hanya digosipkan hamil di luar nikah, mungkin masih bisa tertahankan. Tetapi kalau harus dilempari batu sampai mati? Ah, itu tragis dan mengerikan sekali. Tetapi Maria memilih tetap percaya akan perkataan malaikat Gabriel bahwa kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaunginya dan juga bagi Allah tidak ada yang mustahil. Inilah yang disebut sebagai iman.

Kedua, Maria tahu segala cita-cita dan harapannya sesuai keinginan Tuhan. Ia pasti mempunyai angan-angan sebagai seorang perawan, tetapi ia tahu rencana dan kehendak Tuhan jauh lebih penting dari segalanya, meskipun skenario hidupnya harus berubah total. Ia mengesampingkan kepentingannya sendiri dan menempatkan rencana dan kehendak Allah di atas segala-galanya. Maria adalah perempuan cantik sempurna. Ia punya kelemahan dan keterbatasan. Namun, gadis ini menjalani panggilannya dengan sepenuh hati sekalipun tidak mudah. Ia bersedia menyambut kasih karunia dengan kerendahan hati.

Bacaan kita yang pertama juga mengisahkan tentang Daud yang setia mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidupnya. Ada waktu Tuhan, cara Tuhan, dan tujuan Tuhan yang begitu besar dan tidak mungkin sanggup dipahami dengan total oleh Daud. Dari perikop ini, kita bisa belajar bahwa bukan kita yang sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan melainkan Tuhanlah yang sedang melakukan sesuatu bagi umat-Nya. Kita bisa membayangkan betapa terkagum-kagumnya hati Daud, ketika dia menawarkan akan membangun bait, justru Allah menjawab bahwa Dia telah merencanakan takhta Daud tetap untuk seterusnya, dan bahwa Anak Daud akan mendirikan bait bagi Allah. Dari situ kita bisa belajar, seringkali apa yang kita rencanakan terlalu sempit dan hanya mengarah pada situasi yang sementara dan lingkup yang kecil. Tetapi jikalau kita dengan tulus dan sesuai cara Tuhan serta rela mempersembahkan hidup untuk menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhanlah yang akan mengaitkan apa yang kita lakukan itu ke dalam rencana-Nya yang besar, yang total dan utuh.

Demikian juga bacaan kita yang kedua, mengajak kepada kita untuk fokus kepada kehendak Allah. Tuhanlah yang berkehendak sedangkan manusia harus taat kepada kehendak-Nya. Karena hanya Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Segala kemuliaan bagi Allah. Sebagai seorang yang beriman, marilah kita menundukkan kepala dan mengangkat hati untuk memuliakan Tuhan, sebab kita hidup di dunia semata-mata adalah untuk kemuliaan Tuhan sendiri.

Penutup

Dengan bercermin dari panggilan Maria, kita diajak belajar tentang spiritualitas sebuah panggilan, inisiatif panggilan itu berasal dari Allah dan bersifat pribadi. Hal itu tentu dipengaruhi oleh rasa cinta Allah kepada manusia, sehingga Allah memilih seseorang untuk mewujudkan cinta kasih-Nya itu kepada manusia. Pilihan Allah itu bersifat pribadi, sehingga hanya orang terpilih itulah yang akan menerima panggilan-Nya. Ada kesan bahwa panggilan Allah itu tidak memperhitungkan apakah orang itu siap atau tidak. Namun yang dikehendaki Allah mau atau tidak. Allah tidak memilih orang yang terpanggil itu berdasarkan kedudukan, latar belakang, tubuh yang sempurna, ataupun kepintaran yang mencolok secara intelektual, tetapi hanya dari jiwa yang tulus dan murni. Ia akan hadir untuk menawarkan panggilannya dalam keheningan. Panggilan Tuhan memerlukan tanggapan dari manusia yang dipilih-Nya, entah menerima atau tidak. Allah tidak pernah memaksa setiap manusia yang dipilih-Nya, melainkan Dia memberikan kebebasan untuk menanggapi panggilan itu. Dengan demikian jawaban “YA” merupakan pilihan bebas manusia yang dengan sukarela ingin menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah.

Dalam hal apapun, sekecil apapun, marilah kita menunjukkan bahwa itu semua adalah milik Tuhan dan demi kehendak Tuhan. Bukan lagi diri kita yang kita utamakan, melainkan Tuhan yang telah memanggil kita untuk menjadi orang-orang pilihan-Nya. Marilah kita mengasihi Dia yang telah memberikan kita hidup. Segala sesuatu adalah milik Allah, sehingga segala kemuliaan hanya empunya Tuhan semata. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama lamanya. Dengan demikian mari menjawab setiap panggilan Tuhan seperti Maria menjawab, “… sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu… “ Setelah mendengar jawaban itu malaikat meninggalkan Maria. Malaikat tidak perlu mempertanyakan perasaan yang muncul pada Maria, apakah takut? Bingung? Atau senang? Malaikat juga tidak menjelaskan bagaimana Maria harus menjalani hidupnya setelah mendapat kabar tersebut. Kepergian malaikat itu menunjukkan bahwa Maria akhirnya perlu mengatur dan menanggung konsekuensi yang atas jawaban akan imannya itu sesuai dengan cara hidupnya. Namun, penyertaan Allah tidak akan pernah berhenti dalam perjalanan hidupnya. Selamat menyambut Natal, selamat menyambut panggilan Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu. Amin. [Life/Gereja Kristen Jawi Wetan]