Politik yang Datang dengan Sandal Jepit

Saya mengenal nama Sahrin Hamid jauh sebelum saya benar-benar mengenal orangnya. Bukan dari ruang seminar, bukan dari panggung diskusi elit, apalagi dari baliho politik. Nama itu pertama kali singgah di ingatan saya dari pola-pola gerakan demonstrasi menjelang runtuhnya Orde Baru, sekitar 1997–1998. Masa ketika politik tidak dibicarakan dengan pendingin ruangan, tetapi dengan teriakan, keringat, dan risiko.

Sahrin Hamid adalah bagian dari generasi itu, generasi yang menjadikan jalanan sebagai ruang belajar, spanduk sebagai buku teks, dan represi sebagai ujian ideologis. Sahrin bergerak di Bandung, lalu berpindah ke Jakarta, mengikuti denyut perlawanan yang kala itu tidak memberi banyak pilihan selain bergerak atau diam. Bagi sebagian orang, diam bukanlah opsi.

Namun, politik seperti hidup, tidak selalu mempertemukan kita dengan seseorang di waktu yang sama ketika namanya lebih dulu dikenal.  Saya baru benar-benar “berjumpa” dengan Sahrin Hamid secara nyata bertahun-tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, dalam sebuah konteks yang sama sekali berbeda, kongres organisasi anak muda.

Suatu hari, seorang kawan lama, Aswar Jaya akrab kami sapa Ajay, menelpon.  Ajay menyampaikan rencana pelaksanaan Kongres pertama Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) di Samarinda. Dalam percakapan itu, Ajay menyebut satu nama, Sahrin Hamid.

Nama yang terasa akrab di telinga, tetapi jujur saja, saya belum pernah saya duduk dalam satu meja diskusi, belum pernah bercengkrama, apalagi ngopi bareng.

Tapi politik seringkali bekerja seperti itu, kita lebih dulu mengenal reputasi, baru kemudian mengenal manusia.

Singkat cerita, kami berangkat dari Manado, Sulawesi Utara, menghadiri agenda tersebut. Setibanya di lokasi, barulah saya tahu bahwa Sahrin Hamid yang disebut Ajay lewat telepon itu adalah calon Ketua Umum yang akan “dimuluskan” jalannya oleh kawan-kawan.

Dalam hati saya bergumam sederhana bahwa, jika niatnya baik, maka kewajiban kita adalah mendukung. Prinsip itu masih saya pegang sampai hari ini dalam politik maupun dalam hidup.

Forum kongres memanas. Dinamika khas organisasi pemuda terjadi, tarik-menarik kepentingan, representasi wilayah, dan ego yang kadang mendahului substansi. Saya saat itu dipercaya sebagai pimpinan delegasi, dan kami dari Manado bersepakat bahwa harus ada perwakilan kami yang duduk sebagai pimpinan sidang.

Kami berhasil mendorong Muzakir Boven yang akrab kami sapa Bang Polo, untuk memimpin sidang. Keputusan itu memicu dinamika lanjutan. Delegasi Papua menginginkan hal serupa. Forum memanas, suara meninggi, dan pada titik tertentu, kusambar tongkat dudukan pengeras suara (mic) lalu melayang ke meja sidang yang ditempati bang Polo cuap-cuap.

Sidang pun diputuskan diskors sementara.

Di situlah momen yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Ruangan yang sebelumnya riuh mendadak hening. Para kandidat masuk, di antara mereka, Sahrin Hamid hadir dengan penampilan yang dalam standar politik kekinian nyaris “tidak lazim”, Sahrin hadir dengan kaos, celana jeans dan sandal jepit.

Sementara kandidat lain (Andi Harun) hadir dengan kemeja rapi, celana bahan, sepatu kinclong. Secara visual, kontras itu nyaris simbolik.

Anehnya, justru di situlah saya merasa bangga. Dalam dunia politik yang sering terlalu sibuk memoles citra, Sahrin hadir apa adanya. Ia tidak sedang mempersiapkan diri untuk panggung; ia datang karena keadaan memanggil. Dalam situasi darurat, ia tidak berpikir soal penampilan fisik melainkan Sahrin hadir sebagai dirinya sendiri.

Bagi saya, itu bukan soal gaya. Itu soal watak politik.

Akhirnya, Kongres II BM PAN yang dilaksanakan pada 16–19 Mei 2003 di Samarinda, Kalimantan Timur, menetapkan Sahrin Hamid sebagai Ketua Umum.  Sebuah keputusan yang lahir dari proses yang tidak steril, tidak sunyi, tetapi nyata seperti politik seharusnya.

Waktu berjalan. Sahrin kemudian menjadi Anggota DPR RI. Komunikasi kami tetap terjaga, komunikasi lebih sering lewat telpon. Nada suaranya selalu ringan, diselingi tawa, dan hampir selalu ditutup dengan kalimat yang sama: “Salam buat semua kawan dan saudara di sana. Doakan kita semua sehat dan sukses.”

Kalimat sederhana, tapi jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak terasa sebagai politisi yang sedang “menjaga jarak”.

Terakhir, saya mendapat kabar bahwa Sahrin Hamid kini memimpin sebuah partai baru bernama Partai Gerakan Rakyat, dengan sikap politik yang konsisten mendukung sahabatnya, Anies Rasyid Baswedan.

Bagi saya, konsistensi adalah mata uang langka dalam politik. Sahrin, sejauh yang saya kenal, adalah orang yang setia pada garis keyakinannya, bukan pada angin kekuasaan.

Harapan saya sederhana, sekaligus besar bahwa semoga apa yang diimpikan Sahrin Hamid bisa terwujud. Karena saya mengenalnya sebagai orang yang istiqomah memperjuangkan kebaikan, bahkan ketika jalannya tidak selalu nyaman.

Saya percaya, ia akan terus berjalan sampai keadilan benar-benar terasa, dan kesejahteraan orang banyak tidak lagi sekadar jargon kampanye.

Selamat bekerja, Sahrin. Doa kami selalu bersamamu.

Disampaikan oleh Aktivis Manado, Baso Affandi, 23 Januari 2026