Dari Senayan untuk Indonesia: Sidang 15 Agustus Simbol Pemersatu Bangsa
Suasana Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI�DPD RI tahun 2025, di Gedung Nusantara DPR RI, Jumat (15/8/2025). Foto: Arief/vel

JAKARTA - Kabut tipis pagi masih menggantung di udara, menyelimuti Gedung Nusantara DPR RI yang berdiri megah di jantung Kawasan Senayan. Selaras dengan denyut aktivitas masyarakat yang sudah terasa sejak subuh, seluruh pimpinan, anggota dewan, beserta pegawai sekaligus awak media parlemen pun telah mempersiapkan diri bekerja untuk penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI tahun 2025, Jumat (15/8/2025).

Dua hari jelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia bertema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI tahun 2025 menjadi rangkaian dari benang merah yang menentukan nasib masa depan negara. Mengapa agenda ini penting bagi masyarakat Indonesia?

Tidak hanya menjadi momen persatuan politik nasional, ketika pihak eksekutif dan pihak legislatif duduk Bersama, publik bisa mengetahui capaian, tantangan, dan arah kebijakan strategis pemerintah selama satu tahun ke depan. Disiarkan secara langsung melalui televisi nasional dan media daring, sidang ini menjadi sarana transparansi sekaligus edukasi politik bagi masyarakat.

Tepat pukul 09.00 WIB, suasana riuh rendah di ruang sidang paripurna berubah menjadi hening. Seluruh hadirin berdiri, dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka, Ketua DPR RI Puan Maharani, beserta seluruh pimpinan DPR RI dan para menteri, pimpinan lembaga tinggi negara, hingga ratusan anggota parlemen yang hadir.

Tak lama, lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Suaranya memenuhi ruang kubah besar, memantul di dinding-dinding kayu yang terpoles licin kecoklatan. Dalam satu stanza lagu tersebut, terasa mengingatkan nilai kesetaraan: perbedaan latar belakang politik, daerah, atau jabatan seolah larut dalam identitas tunggal sebagai bangsa Indonesia.

Hening kembali hadir. Ketua MPR RI Ahmad Muzani, yang berdiri di podium utama, kemudian memimpin momen mengheningkan cipta. Dalam jeda senyap itu, seakan ada bayangan wajah para pahlawan kemerdekaan yang hadir tak kasat mata, mereka yang gugur demi merah putih yang kini berkibar di sisi ruangan.

Pukul 09.08 WIB, Ahmad Muzani membacakan pidatonya tak hanya menyampaikan agenda sidang, tetapi juga memuat pesan kebersamaan. Ia menegaskan bahwa di tengah tantangan global, mulai dari krisis ekonomi hingga gejolak geopolitik, Indonesia hanya bisa bertahan dan maju bila seluruh komponen bangsa bersatu.

Selanjutnya, Ketua DPR RI Puan Maharani mengambil alih panggung untuk membacakan pidato. Selama momen ini berlangsung, Puan menegaskan bahwa kolaborasi legislatif dan eksekutif yang solid akan menjadi pondasi stabilitas demokrasi negara.

“Kekuasaan bukan untuk menakuti rakyat, melainkan untuk menyelesaikan urusan rakyat—meskipun sering kali urusannya rumit, ibarat cinta segitiga antara aspirasi, anggaran, dan aturan. Namun serumit-rumitnya “cinta segitiga” itu, selalu ada jalan untuk menemukan solusi terbaik bagi bangsa dan negara; walaupun kadang terasa pedih, patah hati; tetapi kita harus move on,” tutur Puan.

Pidato Kenegaraan

Kemudian, dua layar besar dihadapan para hadirin bersinar menayangkan video capaian kepemimpinan Presiden RI. Adegan demi adegan memperlihatkan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, peluncuran proyek teknologi nasional, hingga kisah-kisah masyarakat yang merasakan manfaat program pemerintah.

Video itu bukan sekadar laporan kinerja, melainkan narasi visual tentang perjalanan Indonesia setahun terakhir. Tepuk tangan terdengar di beberapa sudut ruangan, terutama ketika muncul potret pembangunan di daerah-daerah terpencil yang sebelumnya jarang tersentuh.

Tepat pukul 10.00 WIB, semua pandangan tertuju ke pintu samping ruang sidang. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melangkah menuju podium dengan langkah mantap, mengenakan setelan jas resmi negara berwarna abu-abu.

Berdiri di atas podium, dirinya membuka pidato dengan refleksi sejarah kemerdekaan, merangkul semua pihak untuk mengingat kembali pengorbanan generasi terdahulu. Lalu, ia memaparkan laporan kinerja lembaga-lembaga negara, meliputi bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan. Data-data ia sampaikan dengan tegas, pun setiap capaian selalu dihubungkan dengan peran kolektif seluruh elemen bangsa.

Menjelang akhir pidato, nada suaranya menjadi lebih personal. “Demokrasi yang sejuk, demokrasi yang mempersatukan, bukan demokrasi yang saling gontok-gontokkan, saling menjatuhkan, saling maki-memaki, saling menghujat, bukan demokrasi yang saling membenci. Inilah yang harus kita pegang teguh,” tandas Prabowo, yang langsung disambut tepuk tangan panjang dari para hadirin.
Warna Indonesia 

Sekitar pukul 10.48 WIB, suasana sidang yang kelu berubah menjadi hangat. Persembahan lagu-lagu Nusantara mengalun merdu selaras dengan sayup paduan suara yang mengiringi setiap melodi, mulai dari semangat Sajojo hingga hentakan ceria Maumere. Tipis-tipis para anggota dewan menari mengikuti irama musik, pun tidak terhindarkan Prabowo yang menggerakan kepala dan jari tangan dengan halus.

Pukul 11.47 WIB, Ketua DPR RI Puan Maharani secara resmi menutup sidang tahunan sembari meneriakan “Merdeka”. Para hadirin mulai meninggalkan ruang sidang, senyum dan sapaan hangat tampak di antara mereka. Beberapa pejabat lintas partai berbincang akrab di koridor, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di hari-hari kerja biasa.

Sidang 15 Agustus di DPR RI membuktikan bahwa persatuan bukan sekadar jargon. Momen ini hadir dalam bentuk nyata berupa para pemimpin negara duduk sejajar, pidato yang mengajak untuk kolaborasi,dan simbol-simbol budaya yang merangkul semua perbedaan.

Mengusung semangat “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Indonesia bisa menemukan manifestasinya di ruang sidang yang kerap menjadi arena perdebatan.  Sidang yang menyatukan seluruh elemen bangsa, baik di masa lalu maupun di masa kini, sejenak perbedaan diabaikan demi satu tujuan, menegaskan dan melindungi kemerdekaan Indonesia.