Karhutla Ganggu Aktivitas Sekolah, Hetifah Minta Keselamatan Anak Diutamakan
Ilustrasi siswa yang terdampak asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: ist

JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur mulai berdampak pada aktivitas pendidikan. Memburuknya kualitas udara akibat paparan asap mendorong sejumlah daerah menerapkan pembelajaran dari rumah untuk melindungi anak-anak.

Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pola pembelajaran di tengah kondisi darurat karhutla.

Hingga Senin (31/8/2026), pembelajaran dari rumah telah diberlakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Berau, Kabupaten Mahakam Ulu, dan Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Khusus di Berau, kebijakan tersebut diterapkan bagi 37 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB yang mencakup 11.864 siswa. Kebijakan itu bahkan telah diperpanjang sebanyak dua kali.

Hetifah menegaskan, penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti mengesampingkan pendidikan. Menurutnya, sistem pendidikan justru harus mampu beradaptasi ketika terjadi bencana sehingga proses belajar tetap berjalan tanpa membahayakan kesehatan peserta didik.

“Kalau udara di luar sudah tidak sehat, jangan memaksa anak-anak tetap datang ke sekolah. Kita semua ingin mereka terus belajar, tetapi tentu bukan dengan mengorbankan kesehatan mereka,” ujar Hetifah, Selasa (1/9/2026).

Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang mengambil kebijakan pembelajaran dari rumah dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara. Menurut Hetifah, keputusan tersebut harus dilakukan secara cepat dan berbasis data, tanpa menunggu hingga semakin banyak anak mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap.

Hetifah juga mengingatkan pemerintah daerah untuk menjadikan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 20 Tahun 2026 sebagai salah satu rujukan dalam menentukan kebijakan pembelajaran. Berdasarkan ketentuan tersebut, ISPU pada level 101–200 masuk kategori tidak sehat sehingga pembelajaran tatap muka perlu dibatasi. Sementara ketika ISPU berada pada level 201–300, pembelajaran tatap muka dihentikan sementara dan dialihkan ke pembelajaran jarak jauh.

“Orang tua tentu akan merasa cemas ketika setiap pagi harus memilih antara anak tetap bersekolah atau terpapar asap dalam perjalanan dan selama beraktivitas. Karena itu, pemerintah harus hadir dengan keputusan yang jelas dan memberi rasa aman,” katanya.

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang memiliki tugas di bidang penanggulangan bencana, Hetifah menilai karhutla tidak dapat ditangani hanya dengan berfokus pada pemadaman api. Dampak asap yang meluas membutuhkan penanganan terpadu dari berbagai sektor.

“Asap karhutla masuk ke rumah-rumah kita, mengganggu pernapasan, aktivitas ekonomi, dan sekarang juga pendidikan anak-anak. Karena itu penanganannya harus lintas sektor. BPBD, dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah harus bergerak dengan data yang sama dan koordinasi yang kuat,” tegasnya.

Meski demikian, Hetifah mengingatkan penerapan pembelajaran dari rumah juga memiliki sejumlah tantangan. Keterbatasan perangkat, akses internet, hingga kondisi lingkungan rumah yang kurang mendukung dapat membuat sebagian siswa kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan skema pembelajaran yang fleksibel serta memperbarui informasi kualitas udara secara berkala. Dengan demikian, sekolah dan orang tua memiliki dasar yang jelas dalam menentukan metode pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.

“Jangan sampai kita berhasil melindungi anak dari paparan asap, tetapi tanpa disadari membuat sebagian dari mereka tertinggal dalam belajar. Daerah harus menyiapkan pilihan yang fleksibel, baik daring maupun luring, sesuai kondisi anak dan wilayahnya. Yang paling penting, jangan menunggu keadaan menjadi parah. Kalau udara belum aman, anak-anak tidak perlu dipaksakan kembali ke sekolah. Pelajaran yang tertinggal masih bisa dikejar, tetapi kesehatan anak jauh lebih sulit digantikan,” pungkas Hetifah.

Bila diperlukan, saya juga bisa membuat versi lebih ringkas untuk Parlementaria, dengan gaya straight news 5–7 paragraf dan lead yang lebih kuat.