Komisi I DPR Desak Indonesia Berperan Aktif Hentikan Serangan AS ke Iran
A man looks at a banner depicting US President Donald Trump displayed in front of the Zolfaghar and Zolghadr ballistic missiles exhibited at Azadi Square in Tehran, Iran's capital, on August 2, 2026. (Fatemeh Bahrami / Anadolu via Reuters)

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mendorong pemerintah Indonesia mengambil peran yang lebih aktif dalam mengupayakan penghentian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui jalur diplomasi.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu malam waktu setempat atau Kamis (30/7/2026) dini hari waktu Teheran. Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.

Syamsu Rizal menegaskan Indonesia perlu konsisten menyuarakan penghentian aksi militer dan mendorong semua pihak menahan diri guna mencegah eskalasi konflik.

"Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui perang berkepanjangan. Jalan dialog dan diplomasi harus menjadi pilihan utama," ujar politikus yang akrab disapa Deng Ical itu dalam keterangan yang dikutip Parlementaria di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Legislator Fraksi PKB dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I tersebut meminta pemerintah memanfaatkan posisi strategis Indonesia di berbagai forum internasional untuk menggalang dukungan terhadap terwujudnya gencatan senjata. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Selain itu, Deng Ical mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama komunitas internasional segera memfasilitasi perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran agar konflik tidak semakin meluas.

"Indonesia bersama PBB dan negara-negara sahabat harus mengajak Amerika Serikat dan Iran duduk bersama di meja perundingan. Gencatan senjata harus segera diwujudkan agar tidak semakin banyak korban berjatuhan," katanya.

Menurut anggota Komisi I DPR RI yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan tersebut, konflik berkepanjangan tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas bagi masyarakat dunia.

Ia menilai masyarakat sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampak perang, mulai dari meningkatnya korban jiwa hingga munculnya krisis kemanusiaan, terganggunya stabilitas kawasan, serta bertambahnya ketidakpastian global.

Deng Ical juga mengingatkan bahwa konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperburuk situasi geopolitik internasional. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi perekonomian global melalui gangguan rantai pasok, kenaikan harga energi, hingga memberikan tekanan terhadap perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Perang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Dunia membutuhkan perdamaian, bukan eskalasi konflik. Semua pihak harus mengedepankan diplomasi demi menjaga stabilitas dan melindungi kehidupan masyarakat sipil," pungkasnya.