
A drone view of the aftermath of flash flooding along the Trishuli River amid a new water surge warning in the Trishuli Bazaar area of Nepal on Sunday. (Rajesh Kumar Singh/The Associated Press)
NEPAL - Tim penyelamat di Nepal dan China terus berpacu dengan waktu untuk menemukan ribuan orang yang masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang menerjang kawasan Himalaya. Bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut juga diperparah cuaca buruk dan kenaikan permukaan air sungai.
Hingga Minggu (30/8/2026), otoritas Nepal mencatat 781 orang meninggal dunia, sedangkan 2.502 orang lainnya masih belum ditemukan.
Sementara itu, media pemerintah China melaporkan sedikitnya 16 orang tewas akibat bencana di wilayah Tibet. Sebanyak 546 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang terjadi pada Rabu (26/8).
Dengan demikian, jumlah korban meninggal di kedua negara mencapai sedikitnya 797 orang, sementara 3.048 orang masih dalam pencarian.
Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) memperkirakan lebih dari 90.000 orang kemungkinan terdampak akibat bencana tersebut.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut bencana ini sebagai salah satu bencana lintas batas paling parah yang dialami Nepal dan China dalam beberapa tahun terakhir. Pernyataan itu disampaikan Wang saat berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Nepal pada Sabtu (29/8).
Menurut laporan media pemerintah China, CCTV, Wang mengatakan operasi penyelamatan menghadapi kondisi yang sangat sulit dan kompleks.
Di Tibet, dari 546 orang yang masih hilang, 261 di antaranya merupakan warga negara asing dari 23 negara. Mereka dilaporkan berada di sekitar salah satu jalur perbatasan utama antara China dan Nepal ketika bencana terjadi.
Ancaman Banjir Susulan
Upaya pencarian di Nepal kembali menghadapi ancaman banjir susulan setelah permukaan Sungai Trishuli meningkat akibat hujan yang kembali turun.
Polisi setempat mengatakan warga dan tim penyelamat telah dievakuasi ke lokasi yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi. Operasi pencarian sendiri beberapa kali harus dihentikan sejak Jumat (28/8) karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Tim penyelamat juga memantau sebuah danau yang terbentuk akibat bencana di kawasan perbatasan Nepal-China. Danau tersebut dikhawatirkan kembali meluap dan memicu banjir di wilayah hilir.
Air dari danau sebelumnya mulai mengalir menuju Sungai Lhende Khola dan kemudian ke Sungai Trishuli di Nepal.
CCTV melaporkan sebagian besar volume air danau telah berkurang hingga Sabtu malam. Namun, pemantauan menggunakan drone pada malam yang sama menemukan adanya longsor baru sekitar 2,8 kilometer dari hilir danau.
Material longsoran tersebut kemudian membendung aliran air dan menciptakan genangan baru yang kembali menjadi ancaman bagi kawasan sekitar.
Fokus Pencarian di Terowongan PLTA
Di Nepal, tim penyelamat kini memprioritaskan pencarian ratusan orang yang diduga masih terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air yang rusak akibat banjir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri mengatakan negaranya membutuhkan dukungan internasional untuk menangani sejumlah kebutuhan mendesak dalam operasi tersebut.
Bantuan yang diperlukan antara lain untuk pencarian dan penyelamatan korban di dalam terowongan, pemeriksaan DNA, penyediaan fasilitas penyimpanan jenazah berpendingin, serta proses identifikasi forensik terhadap jenazah yang kondisinya telah memburuk.
Chhetri mengatakan para ahli dari India dan China turut membantu membuka akses menuju terowongan dan mendukung upaya penyelamatan.
Dengan kondisi cuaca yang masih menjadi kendala serta potensi banjir susulan, tim penyelamat di kedua negara terus memperluas pencarian terhadap ribuan korban yang belum ditemukan.
Info Detak.co | Senin, 31 Agustus 2026 
